loha semuaaa, baru sempet nge-post lagi nih hehe abis sibuk sama sekolah dan berbagai macam tugas yang kebanyakan ga jelas semua hehe (maap curhat),, kali ini mau post cerpen nih, sebenernya ini cerpen, bukan fanfiction (ff) tapi karena ceritanya tentang angel, yang kebayang cuma wajah tampan nan manis (ceilaah) dari baekhyun exo hehehe jd nama angelnya baekhyun xi (?) kenapa? karena bias aku baekhyun sama luhan, bingung mau ngambil nama yang mana, jadi nama mereka aku gabung, Xi Luhan + Byun Baekhyun = Baekhyun Xi hahahaha maaf kalo ga jelas, kalo ngga suka ga perlu dibaca juga kok hehe ^^ yaudah, happy reading ya guys!! :)
.
.
.
Aku sangat menyukai sosok angel. Ya, angel yang sering digambarkan dalam manga jepang. Sosoknya yang memiliki sayap putih bersih menenangkan. Entah
sejak kapan aku mulai menyukai sosok tersebut, yang pastinya belum sama sekali
aku jumpai. Segala hal tentang angel pasti aku miliki, mulai dari film anime
tentang angel, sampai berbagai aksesoris mengenai sayap putih yang dimiliki
angel.
Pada
kehidupan ku sehari-hari sebenarnya aku hanyalah siswi biasa kelas 12 yang tengah menuju universitas seperti
pada umunya. Memiliki teman, berbagi cerita bersama, tertawa bersama. Ya, hanya
kehidupan biasa seperti itu. Namun, satu hal yang aku tahu pasti aku tak pernah
atau bisa dibilang belum pernah merasakan jatuh cinta, aku hanya merasakan
jatuh cinta pada sosok angel yang jelas-jelas hanya ada dalam dunia fiksi
belaka. Namun, begitulah kenyataannya, aku tak pernah jatuh cinta pada manusia
biasa. Tapi, aku tetap senang menjadi diriku yang sekarang ini.
Hari
ini matahari bersinar cerah, menerobos masuk melalui kaca jendelaku, membuatku
yang masih setengah terpejam menggeliat kesana kemari untuk menghindari sinar
matahari yang menusuk. Sejak hari ini dan 2 minggu kedepannya sekolahku libur.
Dan aku pun memang sengaja ingin bangun siang.
Karena matahari yang begitu menusuk
mulai membuat tidurku tak nyaman, aku bangun,membuka mata, dan sedikit membuat
uapan kecil. Dengan langkah gontai aku berjalan ke kamar mandi, membasuh
wajahku dan menyikat bersih gigiku.
Setelah
itu, aku mulai mengoleskan sendiri selai ke atas roti tawar yang tengah aku
pegang. Ya, aku melahapnya sendirian ditengah ruang makan yang besar ini. Ah, sendiri lagi, batinku terisak. Ya,
setiap harinya memang selalu begini, orang tuaku selalu sibuk dengan
pekerjaannya dan yang sudah pasti mereka sudah jalan dari pagi buta tadi. Aku
anak tunggal dari keluarga yang menurutku cukup berkecukupan ini, meskipun aku
sangat miskin akan kasih sayang dari orang tuaku, aku tetap menjadi anak yang
selalu menuruti perintah mereka. Mungkin karena kurangnya perhatian dari
mereka, aku mulai menyukai sosok angel, yang selalu digambarkan penuh dengan
kehangatan dan kasih sayang. Ah,
sudahlah, memang setiap harinya akan selalu begini bukan? Pikirku dalam
hati. Aku menarik panjang nafasku yang terasa sesak dan melahap habis roti yang
tadi ada ditanganku.
Setelah
mandi dan membersihkan kamarku, aku memutuskan untuk menulis keseharianku
disebuah diary yang cukup besar menurutku untuk menumpahkan seluruh emosi, atau
masalah yang selalu ku pendam. Terlalu sukanya aku pada sosok angel, aku memberi
judul diary itu dengan ‘Angel’.
Bukan
seperti diary pada umumnya yang memulai tulisannya dengan kata ‘Dear diary’,
aku memulainya dengan ‘Dear Angel’ dan hari ini aku melanjutkannya dengan
menuliskan apa yang kurasakan sejak tadi pagi :
Dear Angel, hhhhh sepertinya
setiap hari akan selalu begini ya, Aku kesepian, benar-benar kesepian. Andai
kau adalah sosok yang dapat aku sentuh dan jangkau, ku yakin aku takkan pernah
melepaskanmu. Sebenarnya, aku lelah berpura-pura tegar seperti ini didepan
orang tuaku, teman-teman atau bahkan orang terdekatku, hanya kau angel yang tau
segala kepenatanku menjalani kehidupan seperti ini. Aku benar-benar
merindukanmu, sosok yang tak pernah aku lihat dan jangkau, hanya satu kata yang
selalu ku ucap untukmu “I wish you can be here for me”
Aku sedikit menitikan airmata
sebelum menutup rapat buku itu dan memeluknya. Angin lembut di halaman belakang
rumah ku menerpa ku hingga membuatku terpejam, dan alhasil aku ketiduran
diayunan belakang rumahku.
Tak begitu lama aku terpejam,
tiba-tiba aku merasakan ayunan yang tadinya bergerak berhenti seketika, aku
merasakan angin yang cukup kencang dari sebelum aku terlelap, masih dalam mata
terpejam aku merasakan tangan lembut seseorang membelai pipiku. Aku pun membuka
mataku. Dan seketika itu pula aku membelalakan mataku, benar-benar membelalak
hingga sepertinya bola mataku ingin keluar dari tempatnya.
Disana, tepat dihadapanku saat ini,
aku melihat sosok putih bersih bercahaya, dia seorang namja, bajunya yang putih
bersih panjang dengan celana putih pula membalut tubuhnya yang indah. Wajahnya
benar-benar bercahaya, tampan, dan begitu menenangkan. Dan yang membuatku
terbelalak lebih besar lagi yaitu dia memliki sayap! Sayap putih besar dan
bersih benar-benar terpasang di balik punggungnya. Aku berkali-berkali mengucak
mataku dan sosok itu tetap masih disana dan menatapku dengan senyum ramah.
Apa ini mimpi? Kalau ini mimpi aku
tak mau bangun dan membuka mataku, batinku.
Namun, kemudian sosok itu berkata
sambil tersenyum “ini bukan mimpi kok, aku angel yang terpanggil karna suara
hatimu yang selalu merintih kesakitan” katanya yang memecahkan lamunanku.
“A.. Apa?” kataku tergagap-gagap
karena melihat sosok yang begitu aku cintai. “Bagaimana kau bisaa.. aku kann…”
aku tidak bisa meneruskan kata-kataku karena nafasku sangat sesak dan debaran
jantungku semakin cepat dan cepat.
Ia hanya sedikit terkekeh kecil dan
berkata “karena aku adalah your angel, aku bisa membaca pikiranmu” aku mencubit
pipiku dan “aww” aku meringis sakit karena aku mencubitnya dengan kencang,
berharap mengetahui bahwa ini nyata, dan ini memang benar-benar nyata.
“la.. lalu kenapa kau bisa.. bisa
ada dsini?” kataku masih dalam aksen gagap. Ia kembali tersenyum, senyum yang
amat indah. “karena aku sudah tidak betah mengawasimu hanya dari atas sana yang
terus-terusan memanggil aku”
Aku masih bingung dengan semua ini.
“lalu, kau.. kau akan menemaniku disini? Dibumi ini?”. “tentu saja” katanya masih memasang senyum diwajahnya.
Meskipun aku masih bingung dengan bagaimana kelanjutan kehidupanku setelah ini,
aku tetap merasa senang, bahagia, perasaanku saat ini tak bisa terlukiskan oleh
apapun.
“lalu aku harus memanggilmu apa?”
Kataku sambil mencoba menenangkan diriku yang sedari tadi terengah-engah
padahal aku tak habis lari darimanapun.
“oia, aku lupa memperkenalkan
diriku. Namaku Baekhyun Xi, kau bisa memanggilku Baekhyun atau Hyunnie” katanya
menjelaskan dan menarik lenganku untuk berdiri dari ayunan itu. Baekhyun Xi?
Nama yang cukup aneh, pikirku.
“Baekhyun? Kita mau kemana? Apakah
orang lain bisa melihatmu?” kataku sambil kebingunan dengan semua ini ditambah
lagi ia tiba-tiba menarik tanganku dan seperti mau mengajakku pergi kesuatu
tempat.
“ke suatu tempat, ku yakin kau akan
senang, orang lain tak bisa melihatku, karna aku angel hanya milikmu” katanya
dan kini kami tengah berdiri berhadapan. “peganglah tanganku yang erat” katanya
meneruskan dan aku menuruti perintahnya. Kemudian sayap putihnya itu merentang
luas, sangat lebar dan begitu indah. “tutup matamu” katanya memerintah kembali,
dan aku menurutinya lagi.
Aku merasakan kakiku tak menapak
lagi pada rumput hijau dibelakang rumahku. Sepertinya aku terbang, tapi aku tak
berani membuka mataku, belum sempat aku mencoba memberanikan diri membuka
mataku, tiba-tiba ia berkata “nah sekarang bukalah matamu” aku pun segera
menurutinya. Pemandangan menakjubkan berada dihadapanku saat ini. Ia membawaku
ke suatu tempat entah dimana, namun aku tahu ini masih dibumi.
“waaahhh, indah” kataku sambil
menunjukkan wajah yang sangat senang. Pemandangan yang sungguh menakjubkan. Air
danau yang tenang, matahari benar-benar menyinari seluruh permukaannya, namun
suasana tetap hangat bukan panas. Burung-burung berterbangan kesanna kemari.
Angin yang lembut menerpaku dan juga dirinya. Ah, dia sangat indah. Aku menatapnya
dalam, tak ingin melewatkan sedikit pun pancaran indah yang ia miliki.
“terimakasih Hyunnie” kataku sambil
tersenyum pada Baekhyun, yang kini sedang duduk disampingku. Ia tersenyum. Aku
perhatikan dirinya dari ujung sayapnya hingga seluruh tubuhnya. Sebenarnya ia
lebih indah dari pemandangan yang ada dihadapanku. Aku menarik nafasku panjang
tanda kebahagiaanku dan menyandarkan kepalaku pada bahunya. Seketika itu juga
sayap kanannya melebar, dan menyelimutiku didalam pelukannya. Nyaman. Bisakah
aku terus bersamanya? Pikirku dalam hati. Namun tiba-tiba dia menjawab
“Kurasa bisa” Ia tersenyum dan
akupun begitu. Benar-benar hal yang sangat membahagiakan, Terimakasih Tuhan,
batinku sambil tersenyum. Dan ia pun tersenyum.
Ketika matahari mulai tenggelam, ia
kembali membawa ku pulang, dalam pelukan erat tangannya. Seketika itu juga aku
sampai dirumah. Dan ia kembali tersenyum. Ah, tanpa senyumnya itupun dia sudah
sangat indah.
Dan saat kami telah sampai didalam
kamarku. Dia berpamitan untuk kembali ke tempatnya. Namun, aku mencegahnya. Aku
benar-benar tak ingin ditinggalkannya. Dia tersenyum dan berkata, “kan besok
aku akan kesini lagi”, aku menggeleng, aku benar-benar takut melepasnya dan
akhirnya aku berkata “temanilah aku sampai aku tertidur”. Dia tersenyum dan
membelai lembut rambut panjang hitam legam milikku.
Dan aku pun bergegas mandi dan
membersihkan semuanya. Setelah itu aku menghempaskan diriku di kasur yang terasa
begitu nyaman, mungkin karena ada dia disisiku, dia my angel. Sebelum aku
benar-benar mengantuk, dia menemaniku sambil bercerita kehidupannya disana. Dia
bilang dia tak bisa tidur, karena memang dia diciptakan untuk melindungi
manusia-manusia yang ada dibumi. Dia menceritakan berbagai tempat disana, sambil
diselingi canda tawa diantara kami. Ah, terasa begitu hangat dan menenangkan.
Dan tak terasa aku pun mulai merasa mengantuk dengan memberi tanda uapan kecil.
“sebaiknya kau cepat tidur” katanya
tersenyum dan aku menjawab “berjanjilah besok kau akan muncul begitu aku
membuka mataku”. Ia tersenyum menandakan ‘iya’. Lalu aku pun mulai terpejam
dalam pelukannya. Sayap putihnya merentang membungkusku dalam kehangatan yang
ia berikan. Nyaman.
Esok harinya, saat aku berusaha
mengumpulkan semua energy setelah bangun dari tidurku yang sangat terasa
nyaman, tiba-tiba aku melihat sosok putih tampan sekaligus manis tengah berdiri
dihadapanku. Aku sedikit kaget, namun aku tahu dia adalah my angel. Aku pun
segera tersenyum dan ia berkata “selamat pagi” sambil tersenyum. Ah, kuharap
hal ini takkan pernah berakhir, batinku. Dan ia pun kembali tersenyum, senyum
yang tak pernah hilang dari wajah itu. Menandakan kata ‘tentu saja’. Aku pun
tersenyum bahagia, benar-benar bahagia.
Sejak itu, setiap harinya ia selalu
menemaniku. Kemanapun aku pergi ia selalu ada disisiku. Hanya aku yang bisa
melihatnya dan aku semakin jatuh cinta padanya. Ku tahu mungkin kami tak
ditakdirkan sebagai sepasang kekasih. Dia hanya angel ku dan aku hanya
seseorang yang dilindunginya. Meski sakit saat berpikir begitu, aku tetap
senang selama ia masih selalu ada didekatku.
Terkadang, saat kami sedang
diperjalanan, ditengah kerumunan orang, dia suka mengajakku bercanda dan
mengobrol, dan pada saat itu juga batinku berkata “diam bodoh, kalau aku
menyahutimu yang bicara terus-menerus aku akan dianggap gila”. Saat itu juga
dia akan menoleh ke arahku dan tersenyum lebar menandakan iya mengerti apa yang
kumaksudkan. Dan akupun hanya membalasnya dengan sedikit menyimpulkan senyum,
karena jika terlalu lebar mungkin aku benar-benar akan dianggap gila.
Sesampainya dirumah, biasanya kami
akan membicarakan kelakuan orang-orang tadi diluar sana, entah saat kita pergi
ke perpus, mall, atapun taman bermain. Kami mentertawakan apapun yang kami
anggap lucu. Dan terkadang aku pun memarahinya karena terlalu banyak bicara dan
membuatku kebingungan saat ingin menjawab perkataannya, karena aku takut
dianggap gila.
“Kau harus lebih sedikit mengurangi
bicaramu itu, aku takut dianggap gila tau” kataku sambil mempoutkan bibirku.
Dia hanya tertawa melihatku memarahinya dan aku kembali mempotkan bibirku.
Melihat aku yang sangat kesal,akhirnya dia berhenti tertawa dan berkata “kau
sangat manis saat begitu” deg! Jantungku benar-benar hampir berhenti. “aku
mengerti, aku mengerti.. iyaa aku akan mengurangi sedikit bicaraku” katanya
sambil tersenyum dan membelai lembut rambut hitam legam ku. Aku pun tersenyum
dan memeluknya. “Berjanjilah kau akan selalu disini”. Dia hanya membelai
kembali rambutku.
Kehidupan ku berjalan sempurna dan
sangat indah ditemani olehnya. Entah mengapa, sejak ada dirinya aku merasa
hidupku lebih baik. Orangtua ku terkadang menyempatkan waktu untuk sekedar bersenda
gurau dengan ku. Setelah beberapa tahun ku lewati dengan tanpa kasih sayang
dari mereka, kini mereka mulai memberikan kembali kasih sayang yang dulu pernah
ada diantara kami. Ah, mungkin ini semua
berkat kamu angel. Terimakasih, batinku berkata sementara tubuhku sedang
dipeluk erat oleh kedua orang tuaku. Baekhyun Xi-ku pun menatap ke arahku dan
tersenyum. Senyum yang amat indah.
Semua berjalan begitu sempurna,
hingga suatu hari..
Kami tengah mengobrol seperti biasa
dihalaman belakang rumahku. Ia tertawa ceria dan aku pun tertawa ceria melebihi
dirinya. Namun, ditengah-tengah canda tawa kami, wajahnya tiba-tiba terlihat
murung. Degh! Entah mengapa nafasku langsung terasa sesak, sangat sesak. Dia
kini tertunduk lemas dihadapanku. Kupegang tangannya erat, dan kurasakan
tangannya sedikit bergetar.
“Kenapa?” aku pun mulai merasakan
sesuatu yang—entah
apa namanya—namun
sangat membuatku sesak, sangat sesak.
“Maaf” katanya sambil terus
menundukan wajahnya. Tes… tiba-tiba satu tetes airmata jatuh dari kelopak matak
yang mungil. Entah mengapa, melihat senyumannya hilang begitu saja dari
wajahnya membuatku sakit.
Dia yang merasakan airmataku jatuh
tepat dipunggung tangannya, menoleh kearahku dan mengusap lembut pipiku yang
dialiri air mata. Kupegang erat tangannya yang kini ada dipipiku.
“Maaf, sebenarnya, waktuku
bersamamu, hanya sampai sekarang” katanya dengan wajah yang sangat kehilangan
keceriaannya. Jantungku hampir berhenti berdetak. Kenapa? Kenapa baru bilang sekarang, batinku berteriak. “Karena aku
nggabisa melihat senyumanmu hilang dari wajahmu, pasti jika aku memberitahumu
tentang ini, senyuman itu pasti! Pasti akan hilang dari wajahmu”
Aku yang sudah tak sanggup lagi
berkata-kata. Hanya bisa membalasnya dalam batinku. engga, kamu harus tetap disini, engga! Aku nggamau kehilanganmu, batinku
terisak. Dan kurasakan tangannya yang sedari tadi aku pegang dengan eratnya
perlahan hilang dari genggamanku. Aku pun semakin terisak.
Kulihat dirinya semakin pudar dari
hadapanku. Aku menangis, benar-benar menumpahkan seluruh airmataku. Ia hanya
tersenyum semu dan mencoba mengelus lembut pipiku dengan tangannya yang mulai
tak terlihat. Aku benar-benar takbisa berkata ataupun berbuat apa-apa. Mungkin
dia pun seperti itu. Ketika dirinya benar-benar hampir menghilang mulutku
dengan lemahnya berkata “Aku mencintaimu, my angel..” Dan ketika tangannya
sudah benar-benar tak dapat kurasakan lagi, dan dirinya pun menghilang entah
kemana, samar-samar aku mendengar “Aku juga.. mencintaimu”
Dan seluruh airmataku pun
enar-benar membanjiri wajahku. Aku bertumpu pada kedua lututku karena tak
sanggup lagi untuk berdiri, benar-benar tak sanggup.
Setelah beberapa hari berlalu
tanpanya, aku malah semakin tak bisa melupakannya. Semua kenangan, kebersamaan,
kehangatan yang dulu selalu mengalir dalam benakku. Ku tahu dia masih terus
mengawasiku tapi aku menginginkan dia berada disini, disampingku, tertawa
bersamaku. Sakit, benar-benar sakit merasakan semua ini.
Hari-hariku berjalan seperti biasa,
masih terus menulis dalam buku diary ku. Bahkan, kini aku lebih sering
menggambar wajahnya. Dia yang sangat kurindukan. Tak ada satupun hari tanpa
airmata bagiku. Aku benar-benar sangat merindukannya. Namun, tiba-tiba angin
topan yang lebih besar lagi datang menghampiriku.
Hari ini, pagi yang entah mengapa
tidak begitu menyenangkan. Entah mengapa firasatku buruk sejak tadi aku membuka
mata. Dan tiba-tiba ada telepon masuk, akupun segera berlari keruang tengah
dimana sumber bunyi bordering. Aku mengangkat telepon, dan jantungku pun hampir
kembali berhenti berdetak. Ayahku, kecelakaan.
Aku berlari mungkin setengah
terbang menyusuri koridor-koridor rumah sakit. Dan tak jauh disana aku melihat
ibuku yang tengah menangis didepan pintu yang bertuliskan UGD. Aku segera
berlari dan memeluk ibuku. Hanya hati kami yang sama-sama berkata “semoga ayah
akan baik-baik saja”
Namun, setelah cukup lama kami
menunggu dan menitikan airmata. Dokter dari ruang itu keluar dengan banyak
peluh didahinya, dokter itu pun menggeleng, tanda hal yang sangat buruk menimpa
kami. “sabar ya bu, nak” kata dokter itu sambil menepuk pundakku . Aku dan
ibuku pun menangis dan menumpahkan seluruh airmata.
Harum bunga memenuhi ruangan
didalam rumahku. Tak kusangka semua ini bisa terjadi padaku. Aku yang belum
bisa sepenuhnya melupakan sakit yang kuterima saat dia pergi, kini kembali
tergores benda yang sangat tajam karena harus kehilangan dua hal yang sangat
berarti bagiku. Hatiku benar-benar sakit, sangat sakit, melebihi penyakit
apapun.
Setelah mengikuti seluruh prosesi
pemakaman, aku dan ibuku kembali kerumah. Masih dengan genangan airmata yang
tak terbendung. Setelah beberapa minggu kami lewati dengan mencoba ntuk tegar,
aku dan ibuku mulai kembali beraktifitas. Hanya saja luka dihatiku takkan
sembuh. Aku masih terus menitikan airmata sementara tanganku melukiskan wajah
dan sayapnya yang sangat indah.
Hingga suatu hari..
Aku yang masih belum bisa
melupakannya dan masih sangat merindukannya. Memeluk erat buku diary ku—
yang dipenuhi oleh gambaran wajahnya— didalam kamarku. Tiba-tiba aku
merasakan cahaya masuk melewati kaca jendelaku yang mengarah ke halaman
belakangku. Cahaya itu sangat terang namun hanya sesaat menerobos masuk
kekamarku dan kembali redup. Apakah dia? Batinku bergetar. Aku berlari sambil
memeluk buku diary ku ke halaman belakang. Dan sungguh hal yang sangat tak
mungkin.
Disana, tepat dihadapanku, aku
melihat sosok yang begitu aku rindukan, sangat. Dia, yang masih memakai pakaian
putihnya berdiri tegap dihadapanku. Namun, satu hal lagi yang membuatku sungguh
sangat tak percaya, dia tidak memiliki sayap. Tanpa sadar aku menjatuhkan buku
diary ku dan segera berlari hingga aku dapat memeluknya. Airmataku tumpah
dibajunya yang sangat putih. Tubuhnya yang dulu menghilang kini bisa kembali
aku peluk dengan eratnya. Kubiarkan semua kerinduanku tumpah begitu saja
didekapannya. Dan kubiarkan kehangatan ini mengalir, meski banyak pertanyaan yang
berputar dikepalaku. Setelah cukup lama kami terdiam dalam dekapan yang sangat
hangat, aku melepaskan pelukanku. Dan mulai menumpahkan seluruh pertanyaanku.
“Kamu? Kok…?” aku yang bingung
harus memulai darimana, hanya bisa mengucapkan hal itu. Dan ia pun tersenyum,
senyum yang sangat kurindukan.
“aku melawan takdir” mataku kini
benar-benar membulat sempurna. Dia meneruskan kata-katanya “aku tak tahan
melihatmu menangis terus-menerus, aku sakit melihatmu sakit dan terus memanggil
namaku” dia terdiam sesaat dan kurasakan dia menarik nafasnya dalam. “jadi aku
memohon pada king of angel untuk membiarkanku hidup bersamamu. Dia bisa
mengabulkannya, tapi dengan syarat aku akan menjadi manusia seutuhnya dan
takkan pernah kembali kesana” katanya sambil kembali memelukku dengan erat.
“Aku tahu kau mencintaiku bukan lg
sebagai angel tapi sebagai kekasih sejak kita bertemu dan menghabiskan waktu
bersama, aku tahu semua perasaanmu, dan hal yang tak dapat aku ingkari, aku
juga sangat mencintaimu, bahkan sejak sebelum aku turun kebumi” dan kurasakan
lengannya semakin erat memelukku. “awalnya aku masih dapat menahan semua
perasaanku meski terus merasakan sakit melihatmu terus-menerus darisana dan
hanya bisa melihatmu, hingga sekarang aku sudah tidak dapat menahannya dan
kuputuskan untuk melawan takdirku sebagai angel, untuk hidup bersamamu” dan aku
pun membalas pelukannya.
Kami hanya kembali terdiam dalam
dekapan penuh rasa rindu dan kasih sayang. Dan perlahan aku pun berkata
“terimakasih, aku sangat mencintaimu” dan kurasakan dia sedikit merenggangkan
dekapannya. Kini mata kami beratatap saling bertemu dan mengunci pandangannya.
“Nado, saranghamnida” wajahnya mulai mendekatiku, kurasakan bibirnya yang
hangat dan lembut menyentuh bibirku. Kecupan yang sangat hangat, tanpa nafsu,
hanya rasa rindu yang tak terbendung mengalir diantaranya.
Buku diary ku yang tadi terjatuh
terbuka pada sebuah halaman. Disana, dikertas putih itu tergambar wajahnya yang
sedang tersenyum sangat indah dengan sayapnya yang benar-benar putih membentang
luas. Dengan satu kalimat tulisan tangan ku dibawahnya,
I’ll always love you, my angel..
.
.
.
gimana guys? hope you like it yaaa hehe, maaf kalo ceritanya fiksi banget, ini cerita fiksi pertama ku, jadi maaf kalo rada ngga jelas hehe, jangan lupa komentarnya yaa.. kamsahamnida ^^