Welcome To My Blog

Jumat, 16 Agustus 2013

Tentang Rasa Yang Tersimpan


Aku menyukai seseorang. Dia yang selalu ku tunggu kehadirannya tiga tahun terakhir ini. Aku bertemu dengannya sejak kelas satu SMP, awalnya kami hanya berteman biasa, tak ada sesuatu yang istimewa. Namun, sejak aku mulai memperhatikannya, aku sadar, aku telah jatuh hati padanya,..Hafiar. Ya, dia yang bernama Hafiar kini telah mempunyai tempat dihatiku. Kami sekarang menjadi teman baik, kami selalu bersama sejak pertama kami bertemu hingga sekarang, kelas satu SMA. Dia yang tak mengetahui apa yang sebenarnya ada dihatiku, bersama ku selama tiga tahun ini.
Hari ini berjalan seperti biasanya. Dia datang juga seperti biasanya pukul 06.15, lima belas menit sebelum bel tanda upacara berbunyi. Masuk kekelasnya, dan keluar lagi untuk menyapa teman-temannya yang kemudian dilanjutkan dengan canda gurau. Aku tau semua kegiatannya karna aku selalu memperhatikannya. Selalu dan setiap saat. Hingga aku pun tau perasaan sesungguhnya yang ia sembunyikan. Yang ditatapnya dengan ekspresi wajah penuh cinta adalah Feby. Dia anak perempuan dari kelasnya. Kelas 10-C.
Hari ini, hari yang cukup cerah, matahari menyinari suasana kelas yang gaduh saat istirahat. Aku sedang membaca novel yang tengah ada ditanganku di bangku taman, tiba-tiba ia menghampiriku,”Hei ca, kemana aja lu ? gue cariin daritadi” ia duduk disampingku memperhatikan apa yang aku baca. “Yaa lu kaya gatau gue aja, tiap istirahat kan gue kesini. Emang ada apaan?” aku menjawab dia yang masih memperhatikan novel yang ada ditanganku.
“Ehm, duh gimana ya ngomongnya gue bingung” ia terlihat agak gugup. Aku heran, sesuatu berdegup kencang dihatiku, terlintas dipikiranku tentang Feby. “Apaan si? Yahelaah jangan bikin gue penasaran dah” aku mencoba mengabaikan apa yang terlintas dipikiranku. “Gue,… gue suka sama seseorang” ia menjawab. Jantungku terasa berhenti berdetak, ternyata benar. Aku terdiam sesaat, dan kemudian aku berpura-pura untuk kaget “ha? Serius? Sama siapa” mungkin aku terlalu bodoh menanyakan hal yang sudah pasti aku ketahui jawabannya. “Sama,…. Sama feby,temen sekelas gue”. Aku menarik nafas namun sebisa mungkin aku menahan airmata yang hampir jatuh. “gue tau tuh orangnya,..” tenggorokanku benar-benar terasa sesak oleh sesuatu yang mengganjal. “lu tau? anaknya baik, gue mau ngungkapin perasaan gue, tapi bingung, kasih saran dong” dia berbicara dengan wajah memelas.
Teeeettttttt.. bel masuk berbunyi, “yah bel, yaudah nanti-nanti aja ya kasih sarannya” dia menepuk pundakku, aku hanya tersenyum lalu ia kembali kekelasnya. Aku yang masih terdiam menahan tangis, bangun dan berlari ke toilet. Beruntung semua murid sudah masuk kelas. Aku yang sendirian, tenggelam dalam tangis yang tak terhenti. Aku benar-benar menumpahkan semua airmataku. “Ternyata benar” kata-kata itu terngiang dikepalaku. Sekarang aku harus gimana?
Aku bolos pelajaran sampai jam terakhir. Aku kembali ke kelas mengambil tasku secepat mungkin berharap tak ada yang melihatku. Namun, seseorang menghampiriku, Hafiar. “heh, gimana kelanjutan yang tadi” dia menepuk punggungku yang membelakanginya. “eh, maaf ya gue ada les, nanti-nanti yaa, bye” aku tersenyum getir dan langsung berlari pulang. Aku tak mau dia melihatku yang menangis karna kebahagiannya. Aku pulang dengan sisa-sisa airmata.
Esok harinya saat istirahat, ia menghampiriku lagi. Aku mencoba menarik nafas kembali. “gimana niiih?” dia menanyakan hal kemarin yang sangat membuatku sesak. “hmm gini aja, lu cukup jadi diri lu sendiri, cewe biasanya suka yang apa adanya elo” aku menjawab yang sebenarnya itu adalah isi hatiku. “hmm gitu yaa, terus kapaaan?” dia benar-benar menyebalkan pikirku dalam hati. “ya kalo lu udah siap laah” aku menjawab dengan sedikit nada kesal. “yaudah deh, hehe do’ain yaaa” dia tersenyum riang. Tak kusangka senyuman itu justru sangat melukai hati. Aku hanya tersenyum.
            Seminggu setelahnya tak ada kabar apapun darinya. Diantara obrolan kami pun dia hanya sedikit-sedikit menyinggung masalah Feby. Aku yang masih belum bisa mengobati yang tergores dihatiku, mencoba untuk bersabar. Hingga suatu hari..
            Dia menghampiriku yang sedang duduk didepan rumah sambil mendengarkan musik, sekarang hari sabtu, sekolah libur. Tiba-tiba dia langsung berkata “ca, tau ga? Gue…..” dia tak melanjutkan kata-katanya. “apaan sih?” aku mencoba untuk cuek. “gue jadian sama feby”. Tiba-tiba petir menyambar hatiku. Benar-benar semua ini terlalu cepat. Aku sejenak terdiam, menahan sesuatu yang akan keluar dari ujung-ujung mataku. “serius? Congrats yaa” aku tersenyum selebar mungkin, berharap airmataku tak tumpah. Ia terlihat sangat senang, sangat. Dia banyak bercerita tentang saat dia menembak pujaan hatinya itu, yang tanpa ia sadar hal itu semakin membuat luka yang dalam. Aku hanya tersenyum ditengah-tengah ceritanya. Setelah ia pulang, aku masuk setengah berlari kedalam kamar. Aku kunci rapat-rapat pintu kamar, dan airmata pun tumpah membasahi seluruh wajahku.
            Hari minggu pagi hujan turun, membasahi seluruh jendela kamarku. Aku yang masih tak percaya dengan apa yang terjadi kemarin, melamun didepan meja belajarku disamping jendela. Bukan untuk memikirkan suatu jawaban dari tugas-tugasku, namun aku sibuk memikirkan apa yang harus kulakukan. Buku-buku yang berserakan dihadapanku, ku biarkan begitu saja. Aku yang terabaikan, tak tahu kemana harus melangkah.
Tes..Tes..Tes
            Hujan yang sejak pagi turun dengan derasnya, akhirnya berhenti. Sisa-sisa air masih mengetuk atap rumahku. Ku perhatikan setiap tetes air yang jatuh dari sehelai daun melalui kaca jendela yang berembun. Lagu-lagu melantun lembut ditelingaku “kuhanya seseorang yang terlupakan..” begitulah lantunan lagu yang terngiang dikepalaku. Membuat airmataku tak berhenti mengalir.
            Esoknya aku tak masuk sekolah. Ku rasa aku demam. Mungkin masuk angin karna terlalu banyak menangis. Pagi hari pun, sakit yang ada dihati ini masih tersisa. Kupikir aku pasti akan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk memulihkan sakit ini.
Setelah dua hari tak masuk sekolah, aku sudah merasa mulai baikkan. Bukan hati tetapi hanya fisikku saja. Tak ada alasan untuk tak datang sekolah. Aku berangkat seperti biasa. Duduk dibangku biasa, dengan tatapan yang masih kosong. Teman-teman yang menghampiriku dan mengobrol hanya kubalas dengan senyuman atau anggukan.
            Setelah ia mempunyai Feby, dia hampir tak pernah mempunyai waktu mengobrol denganku. Sekarang setiap harinya terasa seperti beban berat, sangat berat. Terkadang aku melihat mereka bersama, dan saat matanya bertemu dengan mataku dia hanya tersenyum dan melambaikan tangan dan aku hanya bisa membalasnya dengan senyum semu. Dia hanya sesekali menghampiriku untuk bercerita, namun ceritanya itu tak pernah aku harapkan. Dia selalu menceritakan Feby. Didalam hatiku hanya selalu berkata “aku, aku yang selalu menyayangimu sejak tiga tahun lalu, aku bukan dia”. Tentunya itu hanyalah suara hatiku yang telah tertusuk benda yang sangat tajam. Sekarang, setiap harinya aku hanya selalu berusaha terlihat bahagia dihadapannya. Aku harus bahagia jika dia bahagia.
            Suatu hari, ia tak masuk sekolah. Aku heran, dia jarang sekali bahkan tidak pernah tidak masuk sekolah. Pulang sekolah, aku langsung kerumahnya. Menanyakan hal yang tentunya sangat ingin kuketahui. Saat sampai dirumahnya, hanya ada kakaknya seorang. Tanpa basa-basi aku langsung menanyakannya, namun hal tak terduga menyambar langsung ke telingaku. Berita yang benar-benar mengagetkan, dia kecelakaan.
            Aku langsung menuju rumah sakit yang diberitahu oleh kakaknya itu. Aku menanyakan nama pasien Hafiar Causar, dan perkataan administrasi itu semakin membuat jantungku terasa berhenti berdetak. Hafiar Causar tengah dirawat dikamar ICU dan keadaannya sedang koma. Aku berjalan setengah berlari menuju ruang ICU, tak peduli dengan tatapan orang-orang yang menatapku dengan sinis. Sesampainya dikamar kaca itu, aku melihatnya, dia yang terbaring lemah diatas tempat tidur itu, dengan mesin pengukur detak jantung disampingnya dan selang infuse ditubuhnya. Tanpa sadar airmata menetes dari sela-sela ujung mataku. Saat itu hanya satu yang terucap semoga ia akan baik-baik saja.
            Tiga hari sudah aku melihatnya masih terbaring lemah pucat diruang penuh kaca itu. Hal ini lebih membuatku sakit. Lebih daripada saat dia jatuh cinta dan pacaran dengan Feby. Aku masih lebih baik dia pacaran dengan Feby daripada dia harus seperti ini. Jika bisa, aku ingin menukar nyawaku saat ini dengannya jika ia bisa selamat.
Hingga suatu hari, hari itu hari minggu pagi, aku baru membuka mataku dengan sedikit uapan kecil. Tiba-tiba ibuku setengah terengah-engah menghampiriku dan bekata bahwa,.. Hafiar dinyatakan meninggal. Aku terpaku, benar-benar tak bisa merasakan apapun, bahkan detak jantungku sendiri, tiba-tiba air mata tumpah dari mataku. Ibuku memelukku, namun tak lama aku bergegas mandi dan pergi kerumah Hafiar. Air mata masih membasahi pipiku.
Sesampainya disana, aku melihat banyak teman yang tak asing bagiku. Dan tentunya disana ada Feby, dia benar-benar terlihat kehilangan, namun mungkin lebih darinya akulah yang paling merasa kehilangan. Aku pun mengikuti prosesi pemakamanya. Harum bunga memenuhi ruangan ini. Dia terlihat amat indah. Tak seperti orang yang telah mati. Dia hanya seperti sedang tidur. Tak ku sangka dia tak akan membuka matanya lagi. Aku mulai meneteskan air mata lagi.
Setelah hari itu, aku mencoba tegar untuk menghadapi kenyataan ini. Aku masih merasa dia selalu ada didekatku, dia takkan pernah hilang dari ingatanku. Yang harus kusadari sekarang, hidup itu berjalan maju, aku harus bangkit dan terus menatap kedepan. Mungkin dengan serangkaian kejadian ini, aku bisa menjadi lebih kuat.
Sejak itu , setiap ada waktu, aku selalu menyekar dimakamnya. Mendo’akannya. Tetap mendo’akannya.
“yaaah, yang bisa dilakukan manusia yang masih ada dibumi terhadap mereka yang telah tiada, hanya mendo’akannya bukan?” aku menaruh buket bunga mawar diatas makamnya. “ Hafiar maaf gue baru bisa bilang sekarang, sebenarnya sejak kita ketemu, gue sayang, suka sama lu” kataku sambil tersenyum didepan makamnya.
Tiba-tiba angin berhembus ke arahku. Dedaunan semua bergerak. Aku memejamkan mata. Aku tahu Hafiar, aku tahu kau masih selalu ada didekatku..

It's Hurt Part 1

Annyeonghaseyo all.. ini cerpen terbaru akuu, dan sebenernya aku juga ga nyangka bakal jadi panjang sampe berchapter gini.. tapi yaa mau gimana lagi, aku gabisa gantungin cerita begitu aja hehe cerpen yang ini mengambil tema ke korea-korean (gara-gara sering baca ff wkwk) jadi bagi kalian yang ga suka, don't read this! hehe tapi terserah kalian juga si.. hmm yaudah dibaca dulu ya chapter satu ini.. Happy reading yeoreobuunn ^^
.
.
.

Harum bunga memenuhi ruangan yang cukup ramai oleh manusia yang berdatangan silih berganti mengenakan pakaian hitam. Berbagai hiasan bunga tanda duka sudah berdiri dengan angkuhnya didepan rumah itu.
                Seorang yeoja manis dengan rambut tergerai tengah menangis sesunggukan di depan sebuah foto namja yang sangat tampan. Yeoja itu mengenakan pakaian serba hitam yang dilengkapi pula dengan sarung tangan hitam. Dia tak puas-puas untuk berhenti menangis. Dia sangat mencintai namja itu. Seseorang yang bahkan ia rela untuk menukarkan nyawanya dengan namja itu. Andai dia dapat melakukannya, dia akan menggantikan posisi namja itu yang tengah berbaring dalam peti mati. Kaku tanpa ada denyut nadi sedikit pun.
                Yeoja itu terus menangis memandangi foto itu. Terlihat begitu manis sekaligus tampan dalam waktu yang bersamaan ada di foto itu. Namun, kenyataan seseungguhnya, dia harus merelakan nyawa namja itu untuk meninggalkan raga nya yang begitu sempurna. Andai dia bisa membalikkan waktu, ia takkan membiarkan kecerobohannya itu menjadikan namja yang ia cintai sedang tertidur didalam peti mati untuk selamanya. Ya, selamanya.

                Hari itu, hari rabu pagi, sepasang kekasih yang terlihat sangat berbahagia tengah berjalan dipinggiran jalan khusus pejalan kaki. Suasana cukup dingin untuk menginjakkan kaki diluar rumah tetapi bagi mereka itu semua bukanlah masalah. Karena hanya dengan menatap mata satu sama lain mereka sudah merasakan hangat yang tersampaikan.
                Sang yeoja memeluk erat tubuh namja disampingnya dengan kedua lengannya yang kecil sedangkan sang namja memeluk erat bagian pinggang sang yeoja dengan tangan sebelah kanannya. Mereka berjalan beriringan dengan penuh kehangatan, membuat siapapun iri melihat kedua pasangan ini.
                “chagi, kamu ngga kedinginan? Mau berhenti di café itu?” sang namja menunjuk sebuah café dengan raut wajah khawatir.
                “aniyeo chagi, tapi aku memang sedikit lelah. Kajja kita kesana” saut sang yeoja dengan semangat. Sang namja tersenyum dan mereka pun berjalan memasuki café itu.
                “kamu mau apa?” Tanya sang namja ketika mereka telah menempatkan posisi duduk yang nyaman sambil memegang erat tangan yeojanya yang terasa cukup dingin, ia bermaksud untuk menyalurkan kehangatannya pada yeojanya. Sang yeoja tersenyum.
                “sama seperti mu saja.” Jawabnya singkat. “kalau begitu kita pesan cappuccino hangat, otte?” sang yeoja kembali tersenyum. Sang namja lalu memanggil pelayan yang ada didekatnya.
“cappuccino hangat ukuran sedang dua” sang namja memesan pesanan mereka.
“baik, tunggu sebentar” saut si pelayan dengan senyum ramah.
Tak lama kemudian, pesanan mereka pun sampai. Setelah menaruh kedua gelas dimeja itu si pelayan pun pergi.
Sang namja memberikan satu gelas untuk yeoja nya. Yeojanya pun mulai menyeruput sedikit demi sedikit minuman yang diberikan namjanya.
“mashita?” Tanya sang namja dengan senyum yang sangat manis. “ne” jawab sang yeoja sambil tersenyum pula dan kembali menyeruput minumannya.
Canda tawa menghiasi obrolan mereka. Bahkan mereka sampai membicarakan bagaimana jika mereka menikah nanti. Seperti apa gaun yang akan sang yeoja pakai dan begitu juga untuk pakaian sang namja. Bagaimana keadaan rumah mereka nanti. Segala hal dimasa depan mereka bicarakan dengan suasana yang begitu hangat selayaknya atmosphere yang diciptakan sepasang sejoli. Tanpa mereka ketahui, Tuhan telah merencanakan hal lain.
Setelah cukup lama berada di café itu,  akhirnya mereka pun keluar. Belum puas untuk kencan mereka dihari itu, sang namja mengajaknya ke taman hiburan. Mereka menuju halte tempat pemberhentian bus yang akan membawa mereka ke taman hiburan. Mereka segera menempatkan duduk dibangku halte yang cukup panjang. Bus masih lama datang. Sang yeoja memperhatikan sekitarnya dan matanya tertuju pada satu toko diseberang jalan dengan kaca yang sangat besar untuk memamerkan apa yang ada didalam toko tersebut. Sang yeoja memperhatikan satu boneka teddy bear berwarna coklat cerah berukuran sedang yang dipajang dibalik kaca itu.
“chagi, lucu ya?” sang yeoja menunjuk teddy bear yang ia perhatikan sedaritadi.
“kamu ini sudah besar masih suka boneka ya?” sang namja mencubit gemas hidung sang yeoja.
“hehehe” sang yeoja cengengesan mengetahui bahwa sang namja sangat gemas dengan tingkah lakunya.
“kau mau? Tunggu sebentar ya” sang namja pun berdiri tetapi tangannya segera ditahan oleh sang yeoja.
“tidak usah, aku hanya sedikit menyukainya” entah mengapa, sang yeoja tak ingin membiarkannya membeli boneka itu.
“tapi kamu menyukainya kan? Tunggu sebentar ya” Tanya sang namja sambil mengelus lembut pipi sang yeoja.
“kalau begitu aku ikut” entah perasaan apa yang menyelimuti sang yeoja hinga ia tak mau melepas tangan namja yang tengah ia genggam dengan erat.
“tidak usah, ne? nanti kamu kedinginan. Tunggulah disini” jawab sang namja dengan senyumnya, lalu ia mengecup sekilas bibir yeoja yang ada di hadapannya itu, meyakinkannya bahwa ia akan baik-baik saja.
Sang yeoja sedikit tersentak kaget, namun ia tersenyum dan berkata “ne.. hati hati ya” jawab sang yeoja pasrah. Dia selalu menuruti apa yang dikatakan namjanya itu.
Perlahan sang yeoja pun melepas genggaman tangannya dan namja nya pun pergi menyebrang jalan.
Namun, kejadian yang begitu singkat tapi nyata yang sedari tadi dikhawatirkan sang yeoja pun terjadi. Ketika sedang menyebrang, sang namja seperti tersandung sesuatu sehingga membuat dirinya jatuh ke tanah dan ketika itu pula sebuah bus sedang melaju kencang mendekati sang namja. Sorotan lampu bus tersebut semakin mendekati sang namja, tubuh sang namja pun kaku tak dapat bergerak. Dan… kejadian itu terjadi begitu saja.
Namja itu pun koma selama beberapa hari. Tubuhnya terbaring lemah dengan berbagai selang dan jarum infuse menjalar ditubuhnya. Sang yeoja tak berhenti-berhentinya menangis di depan ruang ICCU tempat sang namja terbaring lemah. Ia terus merutuki dirinya sendiri. Andai ia tak menunjuk boneka itu. Andai ia tak melepas genggaman tangan namja nya. Andai ia tak membiarkannya pergi sendirian. Hal ini takkan pernah terjadi. Ia terus merutuki dirinya dengan berbagai pikiran seperti itu.
Dan tepat seminggu lebih empat hari kemudian, namja itu pun menghembuskan nafas terakhirnya.

Disinilah sekarang, namja itu terbaring kaku didalam peti mati. Dan yeoja itu pun tak henti-hentinya menangis sambil merutuki dirinya didalam hati.
Pemakaman pun berjalan lancar. Yeoja itu terus mengiringi prosesi pemakaman dengan air matanya. Melihat namja yang sangat ia cintai itu terkubur didalam tanah, membuat airmatanya semakin tak berhenti mengalir.
Satu per satu orang mulai kembali ke rumahnya masing-masing termasuk kedua orang tua namja itu. Sebelum pergi, kedua orang tua namja itu tersenyum pada namja yang ada disamping yeoja itu lalu menepuk-nepuk pundak yeoja itu mengisyaratkan untuk bersabar. Yeoja itupun hanya sedikit tersenyum semu. Kedua orang tua namja itu memang telah mengetahui hubungan yang dijalin mereka berdua. Dan kedua orang tua itu juga sangat menyukai yeoja itu juga hubungan mereka.
Tinggalah dua orang di pemakaman itu. Seorang namja yang sangat manis berdiri disamping yeoja sang kekasih namja yang baru saja dimakamkan itu. Namja itu mulai memeluk yeoja disampingnya. Membiarkannya menangis di bahunya.
“sudahlah chaeun, ini semua bukan salahmu atau salah siapapun” kata namja itu dengan maksud untuk menenangkan.
“tapi.. andai aku tak membiarkannya pergi, andai aku..” kalimat yeoja itu terpotong oleh perkataan namja didepannya.
“sudah kubilang ini bukan salahmu, Kihan pergi atas kehendak Tuhan” potong sang namja dengan nada lembut.
Namja itu bernama Jinmyeon. Chaeun, Kihan, dan Jinmyeon memang bersahabat sejak mereka SMP. Sebenarnya tanpa Chaeun ketahui, Jinmyeon juga tengah memendam perasaan kepadanya. Perasaan yang sama yang dirasakan Kihan untuk Chaeun maupun Chaeun untuk Kihan. Jinmyeon mencintai Chaeun, namun ia harus memendamnya rapat-rapat karna Kihan telah memberitahu Jinmyeon terlebih dahulu bahwa dia mencintai Chaeun. Meski sakit melihat keduanya berbahagia. Jinmyeon tak pernah sekalipun mengganggu hubungan mereka. Mereka tetap bersama, bersahabat, berbagi tawa dan canda bersama meski Jinmyon merasakan sakit yang teramat dalam.
Tapi bagaimanapun juga, Jinmyeon tak pernah sekalipun berusaha menghapus perasaannya pada Chaeun. Tanpa Chaeun sadari, Jinmyeon selalu berjuang keras membahagiakannya. Jinmyeon selalu ada untuk Chaeun dan karna itupun Jinmyeon mengetahui penyebab kematian Kihan. Chaeun sendiri yang memberitahunya pada Jinmyeon. Jinmyeon orang pertama yang tahu penyebab kematian sahabatnya itu. Tetapi, Jinmyeon tak pernah merasa sedikit pun bahwa ini semua salah Chaeun. Ini semua kehendak Tuhan, begitu yang dipikirkan oleh Jinmyeon.
“Tapi jinmyeon..” Chaeun kembali sesunggukan. Jinmyeon pun akhirnya memeluk Chaeun dengan eratnya.
“Chaeun, meski sulit, cobalah untuk merelakannya.. dia pergi bukan tanpa alasan, dia sangat menyayangimu Chaeun.. dia akan bahagia jika melihatmu tersenyum” Jinmyeon masih berusaha menenangkan Chaeun.
Chaeun mengangguk dalam pelukkan Jinmyeon. Chaeun terdiam untuk beberapa saat dipelukkan Jinmyeon.
Aku akan menjaganya untukmu Kihan. Jinmyeon berkata dalam hati sambil tersenyum. Tiba-tiba dedaunan di makam itu bergerak tertiup angin. Angin lembut menerpa Jinmyeon dan Chaeun yang masih berpelukan didepan makam Kihan.
Jinmyeon tahu, Kihan tengah tersenyum mengetahui akan ada yang menjaga kekasih nya itu dengan tulus. 
Dua bulan kemudian, Chaeun sudah mulai merelakan Kihan. Meski masih ada satu dua tetes airmata yang jatuh dari kelopak matanya yang mungil saat meningat Kihan, Chaeun tetap berusaha untuk tegar. Dia akan terus mengenang Kihan sebagai kekasih atau bahkan calon suami yang terbaik. Tak ada yang bisa menggantikan kenangannya bersama Kihan.
Teettt.. teeetttt,teett.. teeettt, bel rumah Chaeun berbunyi nyaring untuk beberapa kali.
“aahh, bibi kemana si?” Chaeun mengomel sendirian dikamarnya. Ia sedang membaca novel sambil tidur-tiduran siang itu. Hingga seseorang mengganggu kegiatannya hingga ia terpaksa menuruni anak tangga yang cukup banyak itu untuk membukakan pintu. Kamar Chaeun dilantai dua dan saat ini ayah dan ibu nya tengah mengunjungi nenek nya yang sedang sakit di kampung untuk beberapa minggu, membuat Chaeun tinggal dirumah hanya dengan seorang tante nya.  Mungkin tante nya itu tengah tidur dikamarnya hingga ia tak mendengar bel itu.
“taraaaa..” sambut seseorang yang ada didepan pintu rumah Chaeun sambil menunjukkan kantung plastik yang transparan hingga Chaeun bisa melihat apa yang ada didalamnya. Jinmyeon. Chaeun sedikit terlonjak kaget karna suara Jinmyeon cukup kencang untuk sekedar menyambut dirinya yang baru membukakan pintu.
“Jinmyeon, kau? Bawa bahan masakan lagi? Sudah ku bilang kau tak perlu…” kalimat Chaeun dipotong Jinmyeon dengan telunjuknya.
“kau pasti bosan memesan makanan diluar, lagian itu semua ngga bagus buatmu” Jinmyeon berkata dengan lembutnya. Chaeun memang selalu memesan makanan saat orang tuanya tidak ada dirumah karena tak ada yang memasakinya makanan selain ibunya. Tantenya pun tidak mau repot dan lebih memilih memesan makanan. Bagaimana Jinmyeon tahu semua itu? Karena ia memang selalu memperhatikan Chaeun sejak dulu hingga hal-hal kecil seperti ini. Lagipula, Jinmyeon sudah berjanji untuk menjaga Chaeun. Dan memang sedari dulu Jinmyeon takkan membiarkan Chaeun jatuh sakit. Dia sangat mencintai yeoja yang sekarang ada dihadapannya itu.
“hhh.. ne ne, yasudah kajja, aku bantuin lagi ya” Chaeun menghela nafas dan membiarkan Jinmyeon masuk menuju dapur rumah Chaeun.
“Kau bisa memotong wortel itu kan?” Jinmyeon menunjuk wortel dihadapan Chaeun.
“Tentu saja” jawab Chaeun enteng. Chaeun mulai memotong wortel dan sret.. tiba-tiba tangan Chaeun tergores pisau hingga berdarah.
“Auu..” Jinmyeon yang tadinya sedang mengupas kulit kentang memberhentikan aktifitasnya. Dia langsung menoleh ke Chaeun yang meringis kesakitan.
“Chaeun! Kau tidak apa-apa? Sini-sini nanti tanganmu infeksi” Jinmyeon segera memegang tangan Chaeun dan mencucinya dibawah kucuran air keran. Posisi Chaeun dan Jinmyeon saat ini cukup untuk membuat jantung Jinmyeon berdegup kencang. Jinmyeon memegang tangan Chaeun dari belakang dan mengusapnya perlahan hingga darahnya sudah tak begitu banyak mengalir.
“Tuhkan, tadi katanya bisa?” Nada Jinmyeon lebih menunjukkan khawatir daripada meledek. Chaeun mulai menyadari sesuatu. Jinmyeon sangat baik padanya. Jinmyeon selalu ada saat dia susah. Chaeun menyadari sesuatu tetapi ia belum dapat menjelaskannya sebagai sesuatu apa.
“hehe iya, maaf maaf” Chaeun nyengir kuda. Jinmyeon hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Tangan Chaeun sudah dibalut dengan baik oleh perban.
“sini aku bantu apa lagi?” Chaeun antusias. “Tidak usah, kau diam saja disana, ne?” Jinmyeon berkata dengan lembut.
“ah, yasudah, gomawo Jinmyeon” Jinmyeon pun tersenyum.
Setelah semua sudah siap, mereka pun makan dimeja makan saling berhadapan. Keheningan menyergap mereka karena mereka sibuk dengan makanannya. Chaeun sedikit sulit untuk memotong daging dihadapannya karna meskipun jarinya sudah diperban, masih terasa sakit saat menyentuh sesuatu. Chaeun tak bisa menggenggam kuat pisau untuk memotong daging. Menyadari itu, Jinmyeon mengambil piring Chaeun dan memotong-motong kecil daging itu untuk Chaeun. Chaeun hanya tersenyum malu.
“kalau ada yang tak bisa lagi, kau hanya perlu mengatakannya” Jinmyeon kembali berkata dengan lembutnya.
“ne ne, gomawo” Chaeun tersenyum. Cukup untuk membuat jantung Jinmyeon berdetak kuat. Chaeun belum pernah merasakan perhatian orang selembut ini lagi setelah kepergian Kihan. Tak ada yang bisa membuatnya merasa senang selain Kihan. Dan orang pertama yang membuatnya merasakan perasaan senang itu lagi adalah Jinmyeon.
“mashita?” Tanya Jinmyeon saat Chaeun sudah melahap beberapa suap masakan Jinmyeon. Entah mengapa ia langsung terbayang wajah Kihan saat Kihan mengatakan ‘mashita?’ terakhir kalinya di café itu. Tanpa sadar Chaeun yang tengah menatap Jinmyeon yang baru saja menanyai hal yang sama dengan Kihan, meneteskan airmatanya. Jinmyeon langsung panik dan beranjak dari duduknya.
Ia mengambil sehelai tissue di meja makan itu dan mengelap lembut airmta Chaeun.
“wae chaeun? Neo gwenchanna?” Jinmyon terlihat begitu khawatir.
“aniyo Jinmyon. Aku hanya sedikit teringat Kihan” jawab Chaeun jujur. Jinmyeon menghela nafasnya.
“mianhae Chaeun, aku membuatmu menangis lagi..” Jinmyeon merasa bersalah telah membuat yeoja yang sangat ia cintai itu menangis lagi. “ah, aniyo Jinmyeon, ini bukan karnamu kok” Chaeun tersenyum dan mengambil tissue yang dipegang Jinmyeon yang tengah ada dipipi Chaeun. Chaeun semakin benar-benar menyadari bahwa Jinmyeon memang sangat perhatian padanya.
“masakanmu sangat enak. Tak perlu diragukan lagi hehe” Chaeun berusaha meyakinkan Jinmyeon bahwa ia taka pa-apa. Jinmyeon pun tersenyum sambil mengelus lembut kepala Chaeun.


*Dikamar Jinmyeon*
Jinmyeon sedang membuka album foto yang selalu tertata rapi didalam laci kamarnya. Satu per satu lembaran foto itu dibukanya. Membangkitkan kembali kenangan yang pernah terjadi saat foto itu diambil.
Album itu berisikan foto mereka bertiga. Chaeun, Jinmyeon, dan Kihan. Sejak mereka SMP sampai terakhir kali mereka berfoto bersama saat kuliah semester dua. Mereka satu angkatan namun berbeda Universitas, Chaeun dan Kihan satu Universitas sedangkan Jinmyeon berbeda. Mereka sedang menjalani kuliah semester tiga saat ini, saat ketika Kihan sudah menghembuskan nafas terakhirnya.
Jinmyeon sampai pada sebuah foto. Foto itu diambil saat mereka sedang bersantai di sebuah danau yang terlihat sangat indah. Mereka meminta bantuan seseorang untuk mengambil foto itu. Disana, terlihat mereka bertiga dengan senyum merekah, senyum yang amat sangat indah. Chaeun berada ditengah diantara Kihan dan Jinmyeon. Sebenarnya Jinmyeon merasa sakit saat melihat foto itu.Tangan Kihan memeluk pinggang Chaeun dengan tangan sebelah kirinya dan begitupun sebaliknya tangan kanan Chaeun memeluk pinggang namja disampingnya, Kihan. Sedangkan tangan kanan Jinmyeon ditaruh dipundaknya Chaeun. Persahabatan yang amat indah sekaligus menyakitkan bagi Jinmyeon. Jinmyeon sangat menyadari perasaan kedua sahabatnya itu dalam foto tersebut. Bagaimana cara Chaeun tersenyum didalam foto itu saat di peluk oleh namja yang di cintainya dan begitupun sebaliknya untuk Kihan. Jinmyeon menyadari mungkin hanya sedikit kemungkinan Chaeun untuk menganggap dirinya lebih dari sekedar sahabat. Meski sering berfikir begitu, Jinmyeon tetap berjuang keras agar cintanya dapat di lihat oleh Chaeun.
“ya.. pasti Chaeun, suatu saat nanti kau pasti akan melihatnya” Jinmyeon tersenyum didepan foto itu dengan sedikit airmata menggenang dipelupuk matanya.
.
.
.
TBC

Nahhh sampai disitu dulu ya.. Dimohon komentarnyaa.. koment lewat twitter juga boleeh, my twitter : @riccafitriani  ^^ biar aku tahu pada mau baca kelanjutannya atau engga, kalo engga yaudah! hehehe engga2,peace all ^^v Semoga suka yaa.. Tungguin kelanjutannya! ^^