Aku menyukai seseorang. Dia yang
selalu ku tunggu kehadirannya tiga tahun terakhir ini. Aku bertemu dengannya
sejak kelas satu SMP, awalnya kami hanya berteman biasa, tak ada sesuatu yang
istimewa. Namun, sejak aku mulai memperhatikannya, aku sadar, aku telah jatuh
hati padanya,..Hafiar. Ya, dia yang bernama Hafiar kini telah mempunyai tempat
dihatiku. Kami sekarang menjadi teman baik, kami selalu bersama sejak pertama
kami bertemu hingga sekarang, kelas satu SMA. Dia yang tak mengetahui apa yang
sebenarnya ada dihatiku, bersama ku selama tiga tahun ini.
Hari ini berjalan seperti biasanya.
Dia datang juga seperti biasanya pukul 06.15, lima belas menit sebelum bel
tanda upacara berbunyi. Masuk kekelasnya, dan keluar lagi untuk menyapa
teman-temannya yang kemudian dilanjutkan dengan canda gurau. Aku tau semua
kegiatannya karna aku selalu memperhatikannya. Selalu dan setiap saat. Hingga
aku pun tau perasaan sesungguhnya yang ia sembunyikan. Yang ditatapnya dengan
ekspresi wajah penuh cinta adalah Feby. Dia anak perempuan dari kelasnya. Kelas
10-C.
Hari ini, hari yang cukup cerah,
matahari menyinari suasana kelas yang gaduh saat istirahat. Aku sedang membaca
novel yang tengah ada ditanganku di bangku taman, tiba-tiba ia menghampiriku,”Hei
ca, kemana aja lu ? gue cariin daritadi” ia duduk disampingku memperhatikan apa
yang aku baca. “Yaa lu kaya gatau gue aja, tiap istirahat kan gue kesini. Emang
ada apaan?” aku menjawab dia yang masih memperhatikan novel yang ada
ditanganku.
“Ehm, duh gimana ya ngomongnya gue
bingung” ia terlihat agak gugup. Aku heran, sesuatu berdegup kencang dihatiku,
terlintas dipikiranku tentang Feby. “Apaan si? Yahelaah jangan bikin gue
penasaran dah” aku mencoba mengabaikan apa yang terlintas dipikiranku. “Gue,…
gue suka sama seseorang” ia menjawab. Jantungku terasa berhenti berdetak,
ternyata benar. Aku terdiam sesaat, dan kemudian aku berpura-pura untuk kaget
“ha? Serius? Sama siapa” mungkin aku terlalu bodoh menanyakan hal yang sudah
pasti aku ketahui jawabannya. “Sama,…. Sama feby,temen sekelas gue”. Aku
menarik nafas namun sebisa mungkin aku menahan airmata yang hampir jatuh. “gue
tau tuh orangnya,..” tenggorokanku benar-benar terasa sesak oleh sesuatu yang mengganjal.
“lu tau? anaknya baik, gue mau ngungkapin perasaan gue, tapi bingung, kasih
saran dong” dia berbicara dengan wajah memelas.
Teeeettttttt.. bel masuk berbunyi,
“yah bel, yaudah nanti-nanti aja ya kasih sarannya” dia menepuk pundakku, aku
hanya tersenyum lalu ia kembali kekelasnya. Aku yang masih terdiam menahan
tangis, bangun dan berlari ke toilet. Beruntung semua murid sudah masuk kelas.
Aku yang sendirian, tenggelam dalam tangis yang tak terhenti. Aku benar-benar
menumpahkan semua airmataku. “Ternyata benar” kata-kata itu terngiang
dikepalaku. Sekarang aku harus gimana?
Aku bolos pelajaran sampai jam
terakhir. Aku kembali ke kelas mengambil tasku secepat mungkin berharap tak ada
yang melihatku. Namun, seseorang menghampiriku, Hafiar. “heh, gimana kelanjutan
yang tadi” dia menepuk punggungku yang membelakanginya. “eh, maaf ya gue ada
les, nanti-nanti yaa, bye” aku tersenyum getir dan langsung berlari pulang. Aku
tak mau dia melihatku yang menangis karna kebahagiannya. Aku pulang dengan
sisa-sisa airmata.
Esok harinya saat istirahat, ia
menghampiriku lagi. Aku mencoba menarik nafas kembali. “gimana niiih?” dia
menanyakan hal kemarin yang sangat membuatku sesak. “hmm gini aja, lu cukup
jadi diri lu sendiri, cewe biasanya suka yang apa adanya elo” aku menjawab yang
sebenarnya itu adalah isi hatiku. “hmm gitu yaa, terus kapaaan?” dia
benar-benar menyebalkan pikirku dalam hati. “ya kalo lu udah siap laah” aku
menjawab dengan sedikit nada kesal. “yaudah deh, hehe do’ain yaaa” dia
tersenyum riang. Tak kusangka senyuman itu justru sangat melukai hati. Aku
hanya tersenyum.
Seminggu
setelahnya tak ada kabar apapun darinya. Diantara obrolan kami pun dia hanya
sedikit-sedikit menyinggung masalah Feby. Aku yang masih belum bisa mengobati
yang tergores dihatiku, mencoba untuk bersabar. Hingga suatu hari..
Dia
menghampiriku yang sedang duduk didepan rumah sambil mendengarkan musik,
sekarang hari sabtu, sekolah libur. Tiba-tiba dia langsung berkata “ca, tau ga?
Gue…..” dia tak melanjutkan kata-katanya. “apaan sih?” aku mencoba untuk cuek.
“gue jadian sama feby”. Tiba-tiba petir menyambar hatiku. Benar-benar semua ini
terlalu cepat. Aku sejenak terdiam, menahan sesuatu yang akan keluar dari
ujung-ujung mataku. “serius? Congrats yaa” aku tersenyum selebar mungkin, berharap
airmataku tak tumpah. Ia terlihat sangat senang, sangat. Dia banyak bercerita
tentang saat dia menembak pujaan hatinya itu, yang tanpa ia sadar hal itu
semakin membuat luka yang dalam. Aku hanya tersenyum ditengah-tengah ceritanya.
Setelah ia pulang, aku masuk setengah berlari kedalam kamar. Aku kunci
rapat-rapat pintu kamar, dan airmata pun tumpah membasahi seluruh wajahku.
Hari minggu
pagi hujan turun, membasahi seluruh jendela kamarku. Aku yang masih tak percaya
dengan apa yang terjadi kemarin, melamun didepan meja belajarku disamping
jendela. Bukan untuk memikirkan suatu jawaban dari tugas-tugasku, namun aku
sibuk memikirkan apa yang harus kulakukan. Buku-buku yang berserakan
dihadapanku, ku biarkan begitu saja. Aku yang terabaikan, tak tahu kemana harus
melangkah.
Tes..Tes..Tes
Hujan yang
sejak pagi turun dengan derasnya, akhirnya berhenti. Sisa-sisa air masih
mengetuk atap rumahku. Ku perhatikan setiap tetes air yang jatuh dari sehelai
daun melalui kaca jendela yang berembun. Lagu-lagu melantun lembut ditelingaku “kuhanya seseorang yang terlupakan..”
begitulah lantunan lagu yang terngiang dikepalaku. Membuat airmataku tak
berhenti mengalir.
Esoknya aku
tak masuk sekolah. Ku rasa aku demam. Mungkin masuk angin karna terlalu banyak
menangis. Pagi hari pun, sakit yang ada dihati ini masih tersisa. Kupikir aku
pasti akan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk memulihkan sakit ini.
Setelah dua hari tak masuk sekolah,
aku sudah merasa mulai baikkan. Bukan hati tetapi hanya fisikku saja. Tak ada
alasan untuk tak datang sekolah. Aku berangkat seperti biasa. Duduk dibangku
biasa, dengan tatapan yang masih kosong. Teman-teman yang menghampiriku dan
mengobrol hanya kubalas dengan senyuman atau anggukan.
Setelah ia
mempunyai Feby, dia hampir tak pernah mempunyai waktu mengobrol denganku.
Sekarang setiap harinya terasa seperti beban berat, sangat berat. Terkadang aku
melihat mereka bersama, dan saat matanya bertemu dengan mataku dia hanya
tersenyum dan melambaikan tangan dan aku hanya bisa membalasnya dengan senyum
semu. Dia hanya sesekali menghampiriku untuk bercerita, namun ceritanya itu tak
pernah aku harapkan. Dia selalu menceritakan Feby. Didalam hatiku hanya selalu
berkata “aku, aku yang selalu
menyayangimu sejak tiga tahun lalu, aku bukan dia”. Tentunya itu hanyalah
suara hatiku yang telah tertusuk benda yang sangat tajam. Sekarang, setiap
harinya aku hanya selalu berusaha terlihat bahagia dihadapannya. Aku harus
bahagia jika dia bahagia.
Suatu hari,
ia tak masuk sekolah. Aku heran, dia jarang sekali bahkan tidak pernah tidak
masuk sekolah. Pulang sekolah, aku langsung kerumahnya. Menanyakan hal yang
tentunya sangat ingin kuketahui. Saat sampai dirumahnya, hanya ada kakaknya
seorang. Tanpa basa-basi aku langsung menanyakannya, namun hal tak terduga
menyambar langsung ke telingaku. Berita yang benar-benar mengagetkan, dia
kecelakaan.
Aku langsung
menuju rumah sakit yang diberitahu oleh kakaknya itu. Aku menanyakan nama
pasien Hafiar Causar, dan perkataan administrasi itu semakin membuat jantungku
terasa berhenti berdetak. Hafiar Causar tengah dirawat dikamar ICU dan
keadaannya sedang koma. Aku berjalan setengah berlari menuju ruang ICU, tak
peduli dengan tatapan orang-orang yang menatapku dengan sinis. Sesampainya dikamar
kaca itu, aku melihatnya, dia yang terbaring lemah diatas tempat tidur itu,
dengan mesin pengukur detak jantung disampingnya dan selang infuse ditubuhnya.
Tanpa sadar airmata menetes dari sela-sela ujung mataku. Saat itu hanya satu
yang terucap semoga ia akan baik-baik
saja.
Tiga hari
sudah aku melihatnya masih terbaring lemah pucat diruang penuh kaca itu. Hal
ini lebih membuatku sakit. Lebih daripada saat dia jatuh cinta dan pacaran
dengan Feby. Aku masih lebih baik dia pacaran dengan Feby daripada dia harus
seperti ini. Jika bisa, aku ingin menukar nyawaku saat ini dengannya jika ia
bisa selamat.
Hingga suatu hari, hari itu hari
minggu pagi, aku baru membuka mataku dengan sedikit uapan kecil. Tiba-tiba ibuku
setengah terengah-engah menghampiriku dan bekata bahwa,.. Hafiar dinyatakan
meninggal. Aku terpaku, benar-benar tak bisa merasakan apapun, bahkan detak
jantungku sendiri, tiba-tiba air mata tumpah dari mataku. Ibuku memelukku,
namun tak lama aku bergegas mandi dan pergi kerumah Hafiar. Air mata masih
membasahi pipiku.
Sesampainya disana, aku melihat banyak
teman yang tak asing bagiku. Dan tentunya disana ada Feby, dia benar-benar
terlihat kehilangan, namun mungkin lebih darinya akulah yang paling merasa
kehilangan. Aku pun mengikuti prosesi pemakamanya. Harum bunga memenuhi ruangan
ini. Dia terlihat amat indah. Tak seperti orang yang telah mati. Dia hanya
seperti sedang tidur. Tak ku sangka dia tak akan membuka matanya lagi. Aku
mulai meneteskan air mata lagi.
Setelah hari itu, aku mencoba tegar
untuk menghadapi kenyataan ini. Aku masih merasa dia selalu ada didekatku, dia
takkan pernah hilang dari ingatanku. Yang harus kusadari sekarang, hidup itu
berjalan maju, aku harus bangkit dan terus menatap kedepan. Mungkin dengan
serangkaian kejadian ini, aku bisa menjadi lebih kuat.
Sejak itu , setiap ada waktu, aku
selalu menyekar dimakamnya. Mendo’akannya. Tetap mendo’akannya.
“yaaah, yang bisa dilakukan manusia
yang masih ada dibumi terhadap mereka yang telah tiada, hanya mendo’akannya
bukan?” aku menaruh buket bunga mawar diatas makamnya. “ Hafiar maaf gue baru
bisa bilang sekarang, sebenarnya sejak kita ketemu, gue sayang, suka sama lu”
kataku sambil tersenyum didepan makamnya.
Tiba-tiba angin berhembus ke arahku.
Dedaunan semua bergerak. Aku memejamkan mata. Aku tahu Hafiar, aku tahu kau masih selalu ada didekatku..












Tidak ada komentar:
Posting Komentar