Welcome To My Blog

Jumat, 16 Agustus 2013

Tentang Rasa Yang Tersimpan


Aku menyukai seseorang. Dia yang selalu ku tunggu kehadirannya tiga tahun terakhir ini. Aku bertemu dengannya sejak kelas satu SMP, awalnya kami hanya berteman biasa, tak ada sesuatu yang istimewa. Namun, sejak aku mulai memperhatikannya, aku sadar, aku telah jatuh hati padanya,..Hafiar. Ya, dia yang bernama Hafiar kini telah mempunyai tempat dihatiku. Kami sekarang menjadi teman baik, kami selalu bersama sejak pertama kami bertemu hingga sekarang, kelas satu SMA. Dia yang tak mengetahui apa yang sebenarnya ada dihatiku, bersama ku selama tiga tahun ini.
Hari ini berjalan seperti biasanya. Dia datang juga seperti biasanya pukul 06.15, lima belas menit sebelum bel tanda upacara berbunyi. Masuk kekelasnya, dan keluar lagi untuk menyapa teman-temannya yang kemudian dilanjutkan dengan canda gurau. Aku tau semua kegiatannya karna aku selalu memperhatikannya. Selalu dan setiap saat. Hingga aku pun tau perasaan sesungguhnya yang ia sembunyikan. Yang ditatapnya dengan ekspresi wajah penuh cinta adalah Feby. Dia anak perempuan dari kelasnya. Kelas 10-C.
Hari ini, hari yang cukup cerah, matahari menyinari suasana kelas yang gaduh saat istirahat. Aku sedang membaca novel yang tengah ada ditanganku di bangku taman, tiba-tiba ia menghampiriku,”Hei ca, kemana aja lu ? gue cariin daritadi” ia duduk disampingku memperhatikan apa yang aku baca. “Yaa lu kaya gatau gue aja, tiap istirahat kan gue kesini. Emang ada apaan?” aku menjawab dia yang masih memperhatikan novel yang ada ditanganku.
“Ehm, duh gimana ya ngomongnya gue bingung” ia terlihat agak gugup. Aku heran, sesuatu berdegup kencang dihatiku, terlintas dipikiranku tentang Feby. “Apaan si? Yahelaah jangan bikin gue penasaran dah” aku mencoba mengabaikan apa yang terlintas dipikiranku. “Gue,… gue suka sama seseorang” ia menjawab. Jantungku terasa berhenti berdetak, ternyata benar. Aku terdiam sesaat, dan kemudian aku berpura-pura untuk kaget “ha? Serius? Sama siapa” mungkin aku terlalu bodoh menanyakan hal yang sudah pasti aku ketahui jawabannya. “Sama,…. Sama feby,temen sekelas gue”. Aku menarik nafas namun sebisa mungkin aku menahan airmata yang hampir jatuh. “gue tau tuh orangnya,..” tenggorokanku benar-benar terasa sesak oleh sesuatu yang mengganjal. “lu tau? anaknya baik, gue mau ngungkapin perasaan gue, tapi bingung, kasih saran dong” dia berbicara dengan wajah memelas.
Teeeettttttt.. bel masuk berbunyi, “yah bel, yaudah nanti-nanti aja ya kasih sarannya” dia menepuk pundakku, aku hanya tersenyum lalu ia kembali kekelasnya. Aku yang masih terdiam menahan tangis, bangun dan berlari ke toilet. Beruntung semua murid sudah masuk kelas. Aku yang sendirian, tenggelam dalam tangis yang tak terhenti. Aku benar-benar menumpahkan semua airmataku. “Ternyata benar” kata-kata itu terngiang dikepalaku. Sekarang aku harus gimana?
Aku bolos pelajaran sampai jam terakhir. Aku kembali ke kelas mengambil tasku secepat mungkin berharap tak ada yang melihatku. Namun, seseorang menghampiriku, Hafiar. “heh, gimana kelanjutan yang tadi” dia menepuk punggungku yang membelakanginya. “eh, maaf ya gue ada les, nanti-nanti yaa, bye” aku tersenyum getir dan langsung berlari pulang. Aku tak mau dia melihatku yang menangis karna kebahagiannya. Aku pulang dengan sisa-sisa airmata.
Esok harinya saat istirahat, ia menghampiriku lagi. Aku mencoba menarik nafas kembali. “gimana niiih?” dia menanyakan hal kemarin yang sangat membuatku sesak. “hmm gini aja, lu cukup jadi diri lu sendiri, cewe biasanya suka yang apa adanya elo” aku menjawab yang sebenarnya itu adalah isi hatiku. “hmm gitu yaa, terus kapaaan?” dia benar-benar menyebalkan pikirku dalam hati. “ya kalo lu udah siap laah” aku menjawab dengan sedikit nada kesal. “yaudah deh, hehe do’ain yaaa” dia tersenyum riang. Tak kusangka senyuman itu justru sangat melukai hati. Aku hanya tersenyum.
            Seminggu setelahnya tak ada kabar apapun darinya. Diantara obrolan kami pun dia hanya sedikit-sedikit menyinggung masalah Feby. Aku yang masih belum bisa mengobati yang tergores dihatiku, mencoba untuk bersabar. Hingga suatu hari..
            Dia menghampiriku yang sedang duduk didepan rumah sambil mendengarkan musik, sekarang hari sabtu, sekolah libur. Tiba-tiba dia langsung berkata “ca, tau ga? Gue…..” dia tak melanjutkan kata-katanya. “apaan sih?” aku mencoba untuk cuek. “gue jadian sama feby”. Tiba-tiba petir menyambar hatiku. Benar-benar semua ini terlalu cepat. Aku sejenak terdiam, menahan sesuatu yang akan keluar dari ujung-ujung mataku. “serius? Congrats yaa” aku tersenyum selebar mungkin, berharap airmataku tak tumpah. Ia terlihat sangat senang, sangat. Dia banyak bercerita tentang saat dia menembak pujaan hatinya itu, yang tanpa ia sadar hal itu semakin membuat luka yang dalam. Aku hanya tersenyum ditengah-tengah ceritanya. Setelah ia pulang, aku masuk setengah berlari kedalam kamar. Aku kunci rapat-rapat pintu kamar, dan airmata pun tumpah membasahi seluruh wajahku.
            Hari minggu pagi hujan turun, membasahi seluruh jendela kamarku. Aku yang masih tak percaya dengan apa yang terjadi kemarin, melamun didepan meja belajarku disamping jendela. Bukan untuk memikirkan suatu jawaban dari tugas-tugasku, namun aku sibuk memikirkan apa yang harus kulakukan. Buku-buku yang berserakan dihadapanku, ku biarkan begitu saja. Aku yang terabaikan, tak tahu kemana harus melangkah.
Tes..Tes..Tes
            Hujan yang sejak pagi turun dengan derasnya, akhirnya berhenti. Sisa-sisa air masih mengetuk atap rumahku. Ku perhatikan setiap tetes air yang jatuh dari sehelai daun melalui kaca jendela yang berembun. Lagu-lagu melantun lembut ditelingaku “kuhanya seseorang yang terlupakan..” begitulah lantunan lagu yang terngiang dikepalaku. Membuat airmataku tak berhenti mengalir.
            Esoknya aku tak masuk sekolah. Ku rasa aku demam. Mungkin masuk angin karna terlalu banyak menangis. Pagi hari pun, sakit yang ada dihati ini masih tersisa. Kupikir aku pasti akan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk memulihkan sakit ini.
Setelah dua hari tak masuk sekolah, aku sudah merasa mulai baikkan. Bukan hati tetapi hanya fisikku saja. Tak ada alasan untuk tak datang sekolah. Aku berangkat seperti biasa. Duduk dibangku biasa, dengan tatapan yang masih kosong. Teman-teman yang menghampiriku dan mengobrol hanya kubalas dengan senyuman atau anggukan.
            Setelah ia mempunyai Feby, dia hampir tak pernah mempunyai waktu mengobrol denganku. Sekarang setiap harinya terasa seperti beban berat, sangat berat. Terkadang aku melihat mereka bersama, dan saat matanya bertemu dengan mataku dia hanya tersenyum dan melambaikan tangan dan aku hanya bisa membalasnya dengan senyum semu. Dia hanya sesekali menghampiriku untuk bercerita, namun ceritanya itu tak pernah aku harapkan. Dia selalu menceritakan Feby. Didalam hatiku hanya selalu berkata “aku, aku yang selalu menyayangimu sejak tiga tahun lalu, aku bukan dia”. Tentunya itu hanyalah suara hatiku yang telah tertusuk benda yang sangat tajam. Sekarang, setiap harinya aku hanya selalu berusaha terlihat bahagia dihadapannya. Aku harus bahagia jika dia bahagia.
            Suatu hari, ia tak masuk sekolah. Aku heran, dia jarang sekali bahkan tidak pernah tidak masuk sekolah. Pulang sekolah, aku langsung kerumahnya. Menanyakan hal yang tentunya sangat ingin kuketahui. Saat sampai dirumahnya, hanya ada kakaknya seorang. Tanpa basa-basi aku langsung menanyakannya, namun hal tak terduga menyambar langsung ke telingaku. Berita yang benar-benar mengagetkan, dia kecelakaan.
            Aku langsung menuju rumah sakit yang diberitahu oleh kakaknya itu. Aku menanyakan nama pasien Hafiar Causar, dan perkataan administrasi itu semakin membuat jantungku terasa berhenti berdetak. Hafiar Causar tengah dirawat dikamar ICU dan keadaannya sedang koma. Aku berjalan setengah berlari menuju ruang ICU, tak peduli dengan tatapan orang-orang yang menatapku dengan sinis. Sesampainya dikamar kaca itu, aku melihatnya, dia yang terbaring lemah diatas tempat tidur itu, dengan mesin pengukur detak jantung disampingnya dan selang infuse ditubuhnya. Tanpa sadar airmata menetes dari sela-sela ujung mataku. Saat itu hanya satu yang terucap semoga ia akan baik-baik saja.
            Tiga hari sudah aku melihatnya masih terbaring lemah pucat diruang penuh kaca itu. Hal ini lebih membuatku sakit. Lebih daripada saat dia jatuh cinta dan pacaran dengan Feby. Aku masih lebih baik dia pacaran dengan Feby daripada dia harus seperti ini. Jika bisa, aku ingin menukar nyawaku saat ini dengannya jika ia bisa selamat.
Hingga suatu hari, hari itu hari minggu pagi, aku baru membuka mataku dengan sedikit uapan kecil. Tiba-tiba ibuku setengah terengah-engah menghampiriku dan bekata bahwa,.. Hafiar dinyatakan meninggal. Aku terpaku, benar-benar tak bisa merasakan apapun, bahkan detak jantungku sendiri, tiba-tiba air mata tumpah dari mataku. Ibuku memelukku, namun tak lama aku bergegas mandi dan pergi kerumah Hafiar. Air mata masih membasahi pipiku.
Sesampainya disana, aku melihat banyak teman yang tak asing bagiku. Dan tentunya disana ada Feby, dia benar-benar terlihat kehilangan, namun mungkin lebih darinya akulah yang paling merasa kehilangan. Aku pun mengikuti prosesi pemakamanya. Harum bunga memenuhi ruangan ini. Dia terlihat amat indah. Tak seperti orang yang telah mati. Dia hanya seperti sedang tidur. Tak ku sangka dia tak akan membuka matanya lagi. Aku mulai meneteskan air mata lagi.
Setelah hari itu, aku mencoba tegar untuk menghadapi kenyataan ini. Aku masih merasa dia selalu ada didekatku, dia takkan pernah hilang dari ingatanku. Yang harus kusadari sekarang, hidup itu berjalan maju, aku harus bangkit dan terus menatap kedepan. Mungkin dengan serangkaian kejadian ini, aku bisa menjadi lebih kuat.
Sejak itu , setiap ada waktu, aku selalu menyekar dimakamnya. Mendo’akannya. Tetap mendo’akannya.
“yaaah, yang bisa dilakukan manusia yang masih ada dibumi terhadap mereka yang telah tiada, hanya mendo’akannya bukan?” aku menaruh buket bunga mawar diatas makamnya. “ Hafiar maaf gue baru bisa bilang sekarang, sebenarnya sejak kita ketemu, gue sayang, suka sama lu” kataku sambil tersenyum didepan makamnya.
Tiba-tiba angin berhembus ke arahku. Dedaunan semua bergerak. Aku memejamkan mata. Aku tahu Hafiar, aku tahu kau masih selalu ada didekatku..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar