.
.
.
Harum bunga memenuhi ruangan yang cukup ramai oleh manusia
yang berdatangan silih berganti mengenakan pakaian hitam. Berbagai hiasan bunga
tanda duka sudah berdiri dengan angkuhnya didepan rumah itu.
Seorang
yeoja manis dengan rambut tergerai tengah menangis sesunggukan di depan sebuah
foto namja yang sangat tampan. Yeoja itu mengenakan pakaian serba hitam yang
dilengkapi pula dengan sarung tangan hitam. Dia tak puas-puas untuk berhenti
menangis. Dia sangat mencintai namja itu. Seseorang yang bahkan ia rela untuk
menukarkan nyawanya dengan namja itu. Andai dia dapat melakukannya, dia akan
menggantikan posisi namja itu yang tengah berbaring dalam peti mati. Kaku tanpa
ada denyut nadi sedikit pun.
Yeoja
itu terus menangis memandangi foto itu. Terlihat begitu manis sekaligus tampan
dalam waktu yang bersamaan ada di foto itu. Namun, kenyataan seseungguhnya, dia
harus merelakan nyawa namja itu untuk meninggalkan raga nya yang begitu
sempurna. Andai dia bisa membalikkan waktu, ia takkan membiarkan kecerobohannya
itu menjadikan namja yang ia cintai sedang tertidur didalam peti mati untuk
selamanya. Ya, selamanya.
Hari
itu, hari rabu pagi, sepasang kekasih yang terlihat sangat berbahagia tengah
berjalan dipinggiran jalan khusus pejalan kaki. Suasana cukup dingin untuk
menginjakkan kaki diluar rumah tetapi bagi mereka itu semua bukanlah masalah.
Karena hanya dengan menatap mata satu sama lain mereka sudah merasakan hangat
yang tersampaikan.
Sang
yeoja memeluk erat tubuh namja disampingnya dengan kedua lengannya yang kecil
sedangkan sang namja memeluk erat bagian pinggang sang yeoja dengan tangan
sebelah kanannya. Mereka berjalan beriringan dengan penuh kehangatan, membuat
siapapun iri melihat kedua pasangan ini.
“chagi,
kamu ngga kedinginan? Mau berhenti di café itu?” sang namja menunjuk sebuah
café dengan raut wajah khawatir.
“aniyeo
chagi, tapi aku memang sedikit lelah. Kajja kita kesana” saut sang yeoja dengan
semangat. Sang namja tersenyum dan mereka pun berjalan memasuki café itu.
“kamu
mau apa?” Tanya sang namja ketika mereka telah menempatkan posisi duduk yang
nyaman sambil memegang erat tangan yeojanya yang terasa cukup dingin, ia
bermaksud untuk menyalurkan kehangatannya pada yeojanya. Sang yeoja tersenyum.
“sama
seperti mu saja.” Jawabnya singkat. “kalau begitu kita pesan cappuccino hangat,
otte?” sang yeoja kembali tersenyum. Sang namja lalu memanggil pelayan yang ada
didekatnya.
“cappuccino hangat ukuran sedang dua” sang namja memesan
pesanan mereka.
“baik, tunggu sebentar” saut si pelayan dengan senyum ramah.
Tak lama kemudian, pesanan mereka
pun sampai. Setelah menaruh kedua gelas dimeja itu si pelayan pun pergi.
Sang namja memberikan satu gelas
untuk yeoja nya. Yeojanya pun mulai menyeruput sedikit demi sedikit minuman
yang diberikan namjanya.
“mashita?” Tanya sang namja dengan
senyum yang sangat manis. “ne” jawab sang yeoja sambil tersenyum pula dan
kembali menyeruput minumannya.
Canda tawa menghiasi obrolan
mereka. Bahkan mereka sampai membicarakan bagaimana jika mereka menikah nanti.
Seperti apa gaun yang akan sang yeoja pakai dan begitu juga untuk pakaian sang
namja. Bagaimana keadaan rumah mereka nanti. Segala hal dimasa depan mereka
bicarakan dengan suasana yang begitu hangat selayaknya atmosphere yang diciptakan
sepasang sejoli. Tanpa mereka ketahui, Tuhan telah merencanakan hal lain.
Setelah cukup lama berada di café
itu, akhirnya mereka pun keluar. Belum
puas untuk kencan mereka dihari itu, sang namja mengajaknya ke taman hiburan.
Mereka menuju halte tempat pemberhentian bus yang akan membawa mereka ke taman
hiburan. Mereka segera menempatkan duduk dibangku halte yang cukup panjang. Bus
masih lama datang. Sang yeoja memperhatikan sekitarnya dan matanya tertuju pada
satu toko diseberang jalan dengan kaca yang sangat besar untuk memamerkan apa
yang ada didalam toko tersebut. Sang yeoja memperhatikan satu boneka teddy bear
berwarna coklat cerah berukuran sedang yang dipajang dibalik kaca itu.
“chagi, lucu ya?” sang yeoja
menunjuk teddy bear yang ia perhatikan sedaritadi.
“kamu ini sudah besar masih suka
boneka ya?” sang namja mencubit gemas hidung sang yeoja.
“hehehe” sang yeoja cengengesan
mengetahui bahwa sang namja sangat gemas dengan tingkah lakunya.
“kau mau? Tunggu sebentar ya” sang
namja pun berdiri tetapi tangannya segera ditahan oleh sang yeoja.
“tidak usah, aku hanya sedikit
menyukainya” entah mengapa, sang yeoja tak ingin membiarkannya membeli boneka
itu.
“tapi kamu menyukainya kan? Tunggu
sebentar ya” Tanya sang namja sambil mengelus lembut pipi sang yeoja.
“kalau begitu aku ikut” entah
perasaan apa yang menyelimuti sang yeoja hinga ia tak mau melepas tangan namja
yang tengah ia genggam dengan erat.
“tidak usah, ne? nanti kamu
kedinginan. Tunggulah disini” jawab sang namja dengan senyumnya, lalu ia mengecup
sekilas bibir yeoja yang ada di hadapannya itu, meyakinkannya bahwa ia akan
baik-baik saja.
Sang yeoja sedikit tersentak kaget,
namun ia tersenyum dan berkata “ne.. hati hati ya” jawab sang yeoja pasrah. Dia
selalu menuruti apa yang dikatakan namjanya itu.
Perlahan sang yeoja pun melepas
genggaman tangannya dan namja nya pun pergi menyebrang jalan.
Namun, kejadian yang begitu singkat
tapi nyata yang sedari tadi dikhawatirkan sang yeoja pun terjadi. Ketika sedang
menyebrang, sang namja seperti tersandung sesuatu sehingga membuat dirinya
jatuh ke tanah dan ketika itu pula sebuah bus sedang melaju kencang mendekati
sang namja. Sorotan lampu bus tersebut semakin mendekati sang namja, tubuh sang
namja pun kaku tak dapat bergerak. Dan… kejadian itu terjadi begitu saja.
Namja itu pun koma selama beberapa
hari. Tubuhnya terbaring lemah dengan berbagai selang dan jarum infuse menjalar
ditubuhnya. Sang yeoja tak berhenti-berhentinya menangis di depan ruang ICCU
tempat sang namja terbaring lemah. Ia terus merutuki dirinya sendiri. Andai ia
tak menunjuk boneka itu. Andai ia tak melepas genggaman tangan namja nya. Andai
ia tak membiarkannya pergi sendirian. Hal ini takkan pernah terjadi. Ia terus
merutuki dirinya dengan berbagai pikiran seperti itu.
Dan tepat seminggu lebih empat hari
kemudian, namja itu pun menghembuskan nafas terakhirnya.
Disinilah sekarang, namja itu
terbaring kaku didalam peti mati. Dan yeoja itu pun tak henti-hentinya menangis
sambil merutuki dirinya didalam hati.
Pemakaman pun berjalan lancar.
Yeoja itu terus mengiringi prosesi pemakaman dengan air matanya. Melihat namja
yang sangat ia cintai itu terkubur didalam tanah, membuat airmatanya semakin
tak berhenti mengalir.
Satu per satu orang mulai kembali
ke rumahnya masing-masing termasuk kedua orang tua namja itu. Sebelum pergi,
kedua orang tua namja itu tersenyum pada namja yang ada disamping yeoja itu
lalu menepuk-nepuk pundak yeoja itu mengisyaratkan untuk bersabar. Yeoja itupun
hanya sedikit tersenyum semu. Kedua orang tua namja itu memang telah mengetahui
hubungan yang dijalin mereka berdua. Dan kedua orang tua itu juga sangat
menyukai yeoja itu juga hubungan mereka.
Tinggalah dua orang di pemakaman
itu. Seorang namja yang sangat manis berdiri disamping yeoja sang kekasih namja
yang baru saja dimakamkan itu. Namja itu mulai memeluk yeoja disampingnya.
Membiarkannya menangis di bahunya.
“sudahlah chaeun, ini semua bukan
salahmu atau salah siapapun” kata namja itu dengan maksud untuk menenangkan.
“tapi.. andai aku tak membiarkannya
pergi, andai aku..” kalimat yeoja itu terpotong oleh perkataan namja
didepannya.
“sudah kubilang ini bukan salahmu,
Kihan pergi atas kehendak Tuhan” potong sang namja dengan nada lembut.
Namja itu bernama Jinmyeon. Chaeun,
Kihan, dan Jinmyeon memang bersahabat sejak mereka SMP. Sebenarnya tanpa Chaeun
ketahui, Jinmyeon juga tengah memendam perasaan kepadanya. Perasaan yang sama
yang dirasakan Kihan untuk Chaeun maupun Chaeun untuk Kihan. Jinmyeon mencintai
Chaeun, namun ia harus memendamnya rapat-rapat karna Kihan telah memberitahu Jinmyeon
terlebih dahulu bahwa dia mencintai Chaeun. Meski sakit melihat keduanya
berbahagia. Jinmyeon tak pernah sekalipun mengganggu hubungan mereka. Mereka tetap
bersama, bersahabat, berbagi tawa dan canda bersama meski Jinmyon merasakan
sakit yang teramat dalam.
Tapi bagaimanapun juga, Jinmyeon
tak pernah sekalipun berusaha menghapus perasaannya pada Chaeun. Tanpa Chaeun
sadari, Jinmyeon selalu berjuang keras membahagiakannya. Jinmyeon selalu ada
untuk Chaeun dan karna itupun Jinmyeon mengetahui penyebab kematian Kihan.
Chaeun sendiri yang memberitahunya pada Jinmyeon. Jinmyeon orang pertama yang
tahu penyebab kematian sahabatnya itu. Tetapi, Jinmyeon tak pernah merasa
sedikit pun bahwa ini semua salah Chaeun. Ini semua kehendak Tuhan, begitu yang
dipikirkan oleh Jinmyeon.
“Tapi jinmyeon..” Chaeun kembali
sesunggukan. Jinmyeon pun akhirnya memeluk Chaeun dengan eratnya.
“Chaeun, meski sulit, cobalah untuk
merelakannya.. dia pergi bukan tanpa alasan, dia sangat menyayangimu Chaeun..
dia akan bahagia jika melihatmu tersenyum” Jinmyeon masih berusaha menenangkan
Chaeun.
Chaeun mengangguk dalam pelukkan
Jinmyeon. Chaeun terdiam untuk beberapa saat dipelukkan Jinmyeon.
Aku
akan menjaganya untukmu Kihan. Jinmyeon berkata dalam hati sambil
tersenyum. Tiba-tiba dedaunan di makam itu bergerak tertiup angin. Angin lembut
menerpa Jinmyeon dan Chaeun yang masih berpelukan didepan makam Kihan.
Jinmyeon tahu, Kihan tengah
tersenyum mengetahui akan ada yang menjaga kekasih nya itu dengan tulus.
Dua bulan kemudian, Chaeun sudah
mulai merelakan Kihan. Meski masih ada satu dua tetes airmata yang jatuh dari
kelopak matanya yang mungil saat meningat Kihan, Chaeun tetap berusaha untuk
tegar. Dia akan terus mengenang Kihan sebagai kekasih atau bahkan calon suami
yang terbaik. Tak ada yang bisa menggantikan kenangannya bersama Kihan.
Teettt.. teeetttt,teett.. teeettt,
bel rumah Chaeun berbunyi nyaring untuk beberapa kali.
“aahh, bibi kemana si?” Chaeun
mengomel sendirian dikamarnya. Ia sedang membaca novel sambil tidur-tiduran
siang itu. Hingga seseorang mengganggu kegiatannya hingga ia terpaksa menuruni
anak tangga yang cukup banyak itu untuk membukakan pintu. Kamar Chaeun dilantai
dua dan saat ini ayah dan ibu nya tengah mengunjungi nenek nya yang sedang
sakit di kampung untuk beberapa minggu, membuat Chaeun tinggal dirumah hanya
dengan seorang tante nya. Mungkin tante
nya itu tengah tidur dikamarnya hingga ia tak mendengar bel itu.
“taraaaa..” sambut seseorang yang
ada didepan pintu rumah Chaeun sambil menunjukkan kantung plastik yang
transparan hingga Chaeun bisa melihat apa yang ada didalamnya. Jinmyeon. Chaeun
sedikit terlonjak kaget karna suara Jinmyeon cukup kencang untuk sekedar
menyambut dirinya yang baru membukakan pintu.
“Jinmyeon, kau? Bawa bahan masakan
lagi? Sudah ku bilang kau tak perlu…” kalimat Chaeun dipotong Jinmyeon dengan
telunjuknya.
“kau pasti bosan memesan makanan
diluar, lagian itu semua ngga bagus buatmu” Jinmyeon berkata dengan lembutnya.
Chaeun memang selalu memesan makanan saat orang tuanya tidak ada dirumah karena
tak ada yang memasakinya makanan selain ibunya. Tantenya pun tidak mau repot
dan lebih memilih memesan makanan. Bagaimana Jinmyeon tahu semua itu? Karena ia
memang selalu memperhatikan Chaeun sejak dulu hingga hal-hal kecil seperti ini.
Lagipula, Jinmyeon sudah berjanji untuk menjaga Chaeun. Dan memang sedari dulu
Jinmyeon takkan membiarkan Chaeun jatuh sakit. Dia sangat mencintai yeoja yang
sekarang ada dihadapannya itu.
“hhh.. ne ne, yasudah kajja, aku
bantuin lagi ya” Chaeun menghela nafas dan membiarkan Jinmyeon masuk menuju
dapur rumah Chaeun.
“Kau bisa memotong wortel itu kan?”
Jinmyeon menunjuk wortel dihadapan Chaeun.
“Tentu saja” jawab Chaeun enteng.
Chaeun mulai memotong wortel dan sret.. tiba-tiba tangan Chaeun tergores pisau
hingga berdarah.
“Auu..” Jinmyeon yang tadinya
sedang mengupas kulit kentang memberhentikan aktifitasnya. Dia langsung menoleh
ke Chaeun yang meringis kesakitan.
“Chaeun! Kau tidak apa-apa?
Sini-sini nanti tanganmu infeksi” Jinmyeon segera memegang tangan Chaeun dan
mencucinya dibawah kucuran air keran. Posisi Chaeun dan Jinmyeon saat ini cukup
untuk membuat jantung Jinmyeon berdegup kencang. Jinmyeon memegang tangan
Chaeun dari belakang dan mengusapnya perlahan hingga darahnya sudah tak begitu
banyak mengalir.
“Tuhkan, tadi katanya bisa?” Nada
Jinmyeon lebih menunjukkan khawatir daripada meledek. Chaeun mulai menyadari
sesuatu. Jinmyeon sangat baik padanya. Jinmyeon selalu ada saat dia susah.
Chaeun menyadari sesuatu tetapi ia belum dapat menjelaskannya sebagai sesuatu
apa.
“hehe iya, maaf maaf” Chaeun
nyengir kuda. Jinmyeon hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Tangan Chaeun sudah dibalut dengan
baik oleh perban.
“sini aku bantu apa lagi?” Chaeun antusias.
“Tidak usah, kau diam saja disana, ne?” Jinmyeon berkata dengan lembut.
“ah, yasudah, gomawo Jinmyeon”
Jinmyeon pun tersenyum.
Setelah semua sudah siap, mereka
pun makan dimeja makan saling berhadapan. Keheningan menyergap mereka karena
mereka sibuk dengan makanannya. Chaeun sedikit sulit untuk memotong daging
dihadapannya karna meskipun jarinya sudah diperban, masih terasa sakit saat
menyentuh sesuatu. Chaeun tak bisa menggenggam kuat pisau untuk memotong
daging. Menyadari itu, Jinmyeon mengambil piring Chaeun dan memotong-motong
kecil daging itu untuk Chaeun. Chaeun hanya tersenyum malu.
“kalau ada yang tak bisa lagi, kau
hanya perlu mengatakannya” Jinmyeon kembali berkata dengan lembutnya.
“ne ne, gomawo” Chaeun tersenyum.
Cukup untuk membuat jantung Jinmyeon berdetak kuat. Chaeun belum pernah
merasakan perhatian orang selembut ini lagi setelah kepergian Kihan. Tak ada
yang bisa membuatnya merasa senang selain Kihan. Dan orang pertama yang
membuatnya merasakan perasaan senang itu lagi adalah Jinmyeon.
“mashita?” Tanya Jinmyeon saat
Chaeun sudah melahap beberapa suap masakan Jinmyeon. Entah mengapa ia langsung
terbayang wajah Kihan saat Kihan mengatakan ‘mashita?’ terakhir kalinya di café
itu. Tanpa sadar Chaeun yang tengah menatap Jinmyeon yang baru saja menanyai
hal yang sama dengan Kihan, meneteskan airmatanya. Jinmyeon langsung panik dan
beranjak dari duduknya.
Ia mengambil sehelai tissue di meja
makan itu dan mengelap lembut airmta Chaeun.
“wae chaeun? Neo gwenchanna?” Jinmyon
terlihat begitu khawatir.
“aniyo Jinmyon. Aku hanya sedikit
teringat Kihan” jawab Chaeun jujur. Jinmyeon menghela nafasnya.
“mianhae Chaeun, aku membuatmu
menangis lagi..” Jinmyeon merasa bersalah telah membuat yeoja yang sangat ia
cintai itu menangis lagi. “ah, aniyo Jinmyeon, ini bukan karnamu kok” Chaeun
tersenyum dan mengambil tissue yang dipegang Jinmyeon yang tengah ada dipipi
Chaeun. Chaeun semakin benar-benar menyadari bahwa Jinmyeon memang sangat
perhatian padanya.
“masakanmu sangat enak. Tak perlu
diragukan lagi hehe” Chaeun berusaha meyakinkan Jinmyeon bahwa ia taka pa-apa.
Jinmyeon pun tersenyum sambil mengelus lembut kepala Chaeun.
*Dikamar Jinmyeon*
Jinmyeon sedang membuka album foto
yang selalu tertata rapi didalam laci kamarnya. Satu per satu lembaran foto itu
dibukanya. Membangkitkan kembali kenangan yang pernah terjadi saat foto itu
diambil.
Album itu berisikan foto mereka
bertiga. Chaeun, Jinmyeon, dan Kihan. Sejak mereka SMP sampai terakhir kali
mereka berfoto bersama saat kuliah semester dua. Mereka satu angkatan namun
berbeda Universitas, Chaeun dan Kihan satu Universitas sedangkan Jinmyeon
berbeda. Mereka sedang menjalani kuliah semester tiga saat ini, saat ketika Kihan
sudah menghembuskan nafas terakhirnya.
Jinmyeon sampai pada sebuah foto.
Foto itu diambil saat mereka sedang bersantai di sebuah danau yang terlihat
sangat indah. Mereka meminta bantuan seseorang untuk mengambil foto itu.
Disana, terlihat mereka bertiga dengan senyum merekah, senyum yang amat sangat
indah. Chaeun berada ditengah diantara Kihan dan Jinmyeon. Sebenarnya Jinmyeon
merasa sakit saat melihat foto itu.Tangan Kihan memeluk pinggang Chaeun dengan
tangan sebelah kirinya dan begitupun sebaliknya tangan kanan Chaeun memeluk
pinggang namja disampingnya, Kihan. Sedangkan tangan kanan Jinmyeon ditaruh
dipundaknya Chaeun. Persahabatan yang amat indah sekaligus menyakitkan bagi
Jinmyeon. Jinmyeon sangat menyadari perasaan kedua sahabatnya itu dalam foto
tersebut. Bagaimana cara Chaeun tersenyum didalam foto itu saat di peluk oleh
namja yang di cintainya dan begitupun sebaliknya untuk Kihan. Jinmyeon
menyadari mungkin hanya sedikit kemungkinan Chaeun untuk menganggap dirinya
lebih dari sekedar sahabat. Meski sering berfikir begitu, Jinmyeon tetap berjuang
keras agar cintanya dapat di lihat oleh Chaeun.
“ya.. pasti Chaeun, suatu saat
nanti kau pasti akan melihatnya” Jinmyeon tersenyum didepan foto itu dengan
sedikit airmata menggenang dipelupuk matanya.
.
.
.
TBC
Nahhh sampai disitu dulu ya.. Dimohon komentarnyaa.. koment lewat twitter juga boleeh, my twitter : @riccafitriani ^^ biar aku tahu pada mau baca kelanjutannya atau engga, kalo engga yaudah! hehehe engga2,peace all ^^v Semoga suka yaa.. Tungguin kelanjutannya! ^^












Tidak ada komentar:
Posting Komentar